Rabu, 29 Februari 2012

Karena Hidup Penuh Rasa

29 Februari, tanggal hari ini hanya terulang setiap empat tahun sekali, tahun kabisat. Tahun dimana bilangan tahunnya jika dibagi dengan angka '4', maka akan menghasilkan bilangan bulat. Seperti tahun ini, 2012. Jika dibagi 4, maka menghasilkan angka 503 yang merupakan bilangan bulat. Tahun kabisat juga memiliki jumlah hari yang banyaknya lebih banyak sehari dibanding tahun-tahun lainnya. Jika kita ketahui di tahun-tahun lain jumlah hari adalah 365 hari, di tahun kabisat jumlah hari menjadi 366 hari dengan kelebihan hari itu berada di bulan Februari. Biasanya jumlah hari di bulan Februari itu  hanya 28, nah tahun kabisat memiliki 29 hari. Dan hari ini adalah hari dengan tanggal yang hanya bisa ditemui untuk empat tahun sekali. Untuk tahun kabisat kali ini aku berkesempatan bertemu, berharap empat tahun yang akan datang aku masih bertemu dengan 29 Februari 2016 dengan keadaan yang jauh lebih baik dari saat ini. Aamiin :D
Hari ini dilalui dengan cukup lengkap. Aku tersenyum, aku tertawa, aku menangis, hingga aku terkagum pada seseorang hari ini. Luar biasa lengkap pembelajaran hari ini. Belum pernah merasa hidup yang sekompleks hari ini. Mungkin aku baru akan merasakannya (lagi) empat tahun yang akan datang, 29 Februari 2016. Memang berada di luar rumah dengan tujuan belajar, akan mendapatkan banyak ilmu. Aku menyebutnya ilmu, meskipun sesak dan 'sakit' bergantian di hatiku hari ini. Ini ilmu, ilmu kehidupan, insyaAllah ^_^

Tersenyum, tertawa. Hal pertama yang ingin kuingat tentang hari ini. Di sela tangisku di hari ini pun aku masih bisa tertawa, itu karena aku bersama kalian. Sahabat, saudara atas ikatan iman. Entah bagaimana aku jika Allah tak berkenan memperkenalkan aku dengan kalian. Para pejuang luar biasa, yang selalu mampu menenangkan tetapi juga belakangan sering membuat rusuh. Iya, hatiku sering rusuh akhir-akhir ini mengingat kebersamaan ini takkan lama lagi. Mungkin tak sampai 4 bulan lagi aku dapat bercengkrama hangat berbagi kisah dengan orang-orang ini, para wanita tangguh, yang sejak awal perkenalanku begitu banyak rasa yang tercipta. Terima kasih telah mengajarkanku bagaimana bisa tersenyum di balik air mata, tertawa di balik tangisanku. Jika aku tak bersama kalian hari ini, mungkin aku takkan sekuat ini. Kebersamaan kita hari ini telah menunjukkan padaku, kalian lebih dari sekedar sahabat. Sigma dengan Senandung Ukhuwah-nya, menggerogoti hatiku malam ini. "Bila nanti kita jauh berpisah, jadikan rabithah pengikatnya, jadikan doa ekspresi rindu, semoga kita bersua di surga". Aamiin, ya Rabb ^_^

Aku menangis hari ini. Subhanallah, Allah memberiku kesempatan untuk sedikit melapangkan hatiku menangis di depan para sahabat itu. Air mata itu pembersih hati, membuang toksin di tubuh, dan sarana meluapkan sedikit sesak. Hari ini rasa sesakku bertambah karena ada sesuatu hal dengan salah seorang yang kuhormati, dengan sang panutan. Aku tak menyangka kalimatku di Senin sore itu diartikan sebagai bentuk 'penolakan' sehingga aku mendapatkan pelajaran hari ini. Tak ingin menuduh macam-macam pada beliau, hanya ingin beliau tahu jika aku tak pernah bermaksud seperti itu. Aku tak punya hak dan kuasa untuk menolak apapun. Aku ingin tetap bermanfaat bagi siapapun, aku tak pernah membayangkan bahwa sedikit saja ambigu kalimat yang diucap, bisa menjadi bumerang bagi pencipta kata-kata. Ini kembali menjadi pembelajaran, aku harus lebih berhati-hati berbicara, mesti lebih pandai memilih kata untuk semua kalimat yang terucap pada siapapun, terutama pada orang yang lebih tua. Terima kasih, bu. Terima kasih juga untuk seorang bapak yang karena senyum penyemangatnya penuh arti itu, aku tak sampai menangis di hadapan banyak orang. Terutama untuk kalian, terima kasih. Aku mencintai kalian, sungguh :D

Aku meluapkan emosi dan sesak hari ini dengan mobil balap dan a cup of ice cream. Meski kondisi tubuhku semalam sebenarnya tak mengizinkanku untuk menikmati es dalam bentuk apapun hari ini, aku memaksakan diri. Alhasil, malam ini sakitnya datang lagi (hehhee, maaf untuk sahabat yang telah mengingatkan aku tentang ini :p). Tetapi, malam ini keadaan hatiku sudah cukup baik. Aku sudah bisa dengan sedikit santai melanjutkan Bab II ku untuk bimbingan besok dan menulis postingan ini. Sekali lagi, terima kasih untuk kalian. Terima kasih :*

Aku terkagum pada seseorang yang tak pernah kutemui sebelumnya. Pada Pak Juli Eko Sarwono, seorang guru matematika dari SMP Negeri 19 Purworejo. Beliau benar-benar GURU. Iya, benar. Sosok guru yang jumlahnya hanya sedikit di negeri ini. Setelah drama Korea "City Hunter" selesai hari ini, channel televisi segera diubah ke saluran Trans 7. Hitam Putih, tayangan selanjutnya yang menghiasi televisi rumah setiap harinya. Hari ini episode paling spesial menurutku. Bintang tamunya itu, si bapak yang telah ku sebut namanya di atas. Beliau adalah seorang guru matematika unik yang menerapkan model pembelajaran kontekstual di tiap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Ia menggunakan 'boneka jelangkung' untuk mengajarkan materi gradien garis lurus, menggunakan 'empeng' bayi untuk mengingatkan siswa pada lingkaran, menggunakan kaleng minuman bekas untuk menentukan volume tabung. Sebagai mahasiswa pendidikan dengan studi Matematika, aku terkagum pada sang guru. Aku mempelajari mengenai teori model pembelajaran kontekstual dan media pembelajaran di kampusku, tetapi menurutku itu hanya sebatas teori. Sedangkan pak Eko mempraktekkan itu. Menurut kepala sekolah tempat pak Eko bertugas nilai siswa dalam mata pelajaran menjadi baik setelah diterapkan model itu. Respon siswapun akhirnya positif pada pembelajaran yang dilakukan.
Dilihat sekali, perawakan pak Eko mirip dengan seorang dosen senior di kampusku, mungkin karena sama-sama orang Jawa  yaa. Pak Eko juga membuka bimbingan belajar matematika di rumahnya dan kalian tahu, itu GRATIS!! Beliau tidak meminta sepeser uang pun untuk membayar lelahnya mengajar tambahan itu. Subhanallah.... Beliau pekerja keras. Sepulang mengajar dengan jarak rumah dan sekolah yang hampir 35 KM, ia berkeliling kampung untuk berjualan bakso menggunakan gerobak dorong. Ia menambah pemasukannya melalui ini, tidak melalui komersialisasi pendidikan. Beliau ini, GURU ^_^
Pesan terakhir darinya yang begitu luar biasa. Ia menjadi guru karena (1) Ibadah, beliau menyebutkan tujuan hidup manusia di dunia ini sesuai dengan bunyi Surat Adz Dzariyat  ayat 56, "tidak Ku-ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepadaKu", (2) mencerdaskan kehidupan bangsa, ia ingin semua anak didiknya menjadi anak-anak yang cerdas (CERDAS, bukan hanya sekedar PINTAR), (3) dan yang terakhir baru gaji. Subhanallah, aku kagum padanya. Ini guru, guru, guru. Ia mendapat banyak penghargaan, bahkan ia mendapatkan penghargaan dari sebuah Universitas di Amerika Serikat sebagai "Good Practices" dengan model pembelajaran kontekstual. Tetapi, ia justru tak terlalu membanggakan itu. Sertifikat yang didapatnya itu tak terlalu diurus, dipajang agar seluruh orang tahu prestasinya. Baginya bukan itu, bukan hal itu yang penting. Tak berhenti aku mengucap kalimat tasbih untuk keluarbiasaan bapak ini. Semoga semakin banyak manusia seperti pak Eko. Semoga semua orang yang berangan menjadi guru dapat meniru sepersekian saja dari diri pak Eko.

Hari ini penuh makna, penuh rasa, dan tentunya banyak belajar. Belajar agar bisa menjadi lebih baik. Mencoba belajar mengabaikan semua rasa yang menyakitkan, rasa yang terkadang tak penting untuk terus-terus dirasakan. Kalimat pak BM hari ini, "Nyelesaike skripsi tu memang ngelatih mental" menjadi pemacuku malam ini untuk segera menyelesaikan tugasku. Mental, itu menjadi bekal di kehidupan sebenarnya. Di luar sana lebih banyak lagi manusia dengan pemikiran yang jauh lebih variatif. Jika kita tak kuat dan tak mampu beradaptasi, maka bersiap untuk tersisihkan. Hari ini indah, hari penuh pembelajaran, hari penuh rasa. Karena hidup penuh rasa *kata-kata sebuah iklan*
^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar