"Man Jadda Wajada", "Siapa yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil". Aah, aku terkena virus film Negeri 5 Menara yang ku tonton di Cinema 21 PIM kemarin bersama HIMMAers 08 dan dua senior di BEM FKIP. Ditambah, semalam menyaksikan Kick Andy Show di Metro TV yang menampilkan beberapa narasumber yang inspiratif, yang menjadikan Man Jadda Wajada sebagai motto hidup mereka. Ketika menulis postingan ini aku diiringi soundtrack Film Negeri 5 Menara, "Man Jadda Wajada" yang dibawakan oleh Yovie and Nuno. Kuulang-ulang hingga aku menghapal liriknya. Semakin berkecamuk hatiku. Berkecamuk karena tiba-tiba aku berpikir mengenai mimpiku. Mimpiku, apa sebenarnya? Apa sebenarnya yang ingin ku capai?
"Malam berteman bintang
Siang sang matahari
Takkan ku patah arang
Hadapi semua rintangan
Siapa yang bersungguh-sungguh diakan berhasil
Siapa yang bersungguh-sungguh diakan berhasil
Manjadda Wajada...Manjadda Wajada
Manjadda Wajada....Manjadda Wajada"
Siang sang matahari
Takkan ku patah arang
Hadapi semua rintangan
Siapa yang bersungguh-sungguh diakan berhasil
Siapa yang bersungguh-sungguh diakan berhasil
Manjadda Wajada...Manjadda Wajada
Manjadda Wajada....Manjadda Wajada"
(Yovie and Nuno - Man Jadda Wajada)
Meski cerita filmnya agak sedikit berbeda dari versi novelnya (bukan berbeda menurutku, mungkin karena tidak seluruh isi novel yang difilmkan, jadi merasa banyak bagian yang tidak ditampilkan), aku tetap merasa Negeri 5 Menara versi film kembali membangkitkan semangatku, untuk segera menyelesaikan 'bagian' ini dan menuju mimpiku sebenarnya. 'Bagian' yang kumaksud, bagian dari hidupku di universitasku saat ini. Bagaimana rasanya menjadi seorang Alif Fikri (interpretasi seorang Ahmad Fuadi, sang penulis novel) yang awalnya merasa 'terpaksa' melanjutkan pendidikannya di Pesantren yang tidak diharapkannya, hingga akhirnya ia menjadi seorang 'pemimpi' diantara para Sahibul Menara lainnya. Menjadi seorang Baso, sang santri dari Gowa yang berusaha keras untuk menghapal Al-Quran karena ingin memakaikan jubah kemuliaan bagi kedua orang tuanya di akhirat kelak. Mimpi para Sahibul Menara yang membayangkan semua awan yang mereka pandang menjadi bentuk benua yang akan mereka kunjungi suatu hari kelak. Sulit pasti menjadi seorang Alif yang menjalani sebuah alur pendidikan dengan keterbatasan minat pada kehidupan pesantren. Bagaimana pada akhirnya dengan kuatnya janji dan ukhuwah antara ia dan para sahabatnya di Pondok Madani, ia menjadi seorang reporter VOA. Aku ingin seperti seorang Alif, benar-benar ingin
Seketika aku mencoba mengingat mimpiku. Aku benar-benar ingin menjadi seorang Alif, seorang reporter, seorang jurnalis, seorang wartawan, dan seorang penulis. Aku sempat lupa pada mimpi itu. Ketika SMP, seorang guru Bahasa Indonesia yang menilai karanganku pada mata pelajarannya, menyuruhku dan seorang sahabat lain untuk menulis sebuah artikel lagi tentang Kartini. Saat itu beliau mengatakan akan mendaftarkan artikel kami pada sebuah kompetisi menulis. Meski saat itu tak menang, aku semakin terpacu untuk rajin menulis. Aku sangat senang ketika tiba masa menulis dan tulisanku ditampilkan di mading sekolah. Di awal studiku di SMA, aku semakin rajin menulis. Menulis cerpen khas remaja berseragam putih abu-abu. Konsumen cerpenku memang hanya di kalangan teman-teman sekelas, aku tak berani mengirimkan tulisanku pada majalah atau minimal harian umum di Palembang. Aku semakin ingin menjadi penulis ketika aku menjadi penggila Teenlit. Semua tulisan novelis Teenlit ku lahap. Ken Terate, Esti Kinasih, Agnes Jessica, Primadona Angela, dll menjadi sahabat imajinasiku melalui tulisan mereka. Aku ingin menjadi mereka, menggebu saat itu.
Ketika melanjutkan studiku di fakultas ini, aku pun masih berusaha aktif menulis *masih konsumsi pribadiku saja*. Menjadi pengurus BEM selama hampir 3 tahun, aku selalu berada di Dinas Media Center/ Media Komunikasi. Aku menjadi salah satu tim kreatif majalah Guruku, meski akhirnya pada edisi terakhir kepengurusanku, aku hanya 'numpang nama' sebagai Sekretaris Redaksi. Aku menyesal sekarang tak benar-benar menjalaninya dengan baik ketika mendapatkan kesempatan itu. Aku juga menyesal saat ini karena tak mencoba untuk menjadi salah seorang anggota di LPM. Aku benar-benar ingin jadi pers, inginku saat ini yang kembali membuncah tanpa aku sadari setelah menonton kemarin.
Seorang guru dekat di masa SMA pernah mengatakan, aku ini pintar. Aku ini cerdas, tetapi aku ini tidak rajin. Aku ini kurang bersungguh dan kurang bersemangat untuk mencapai mimpiku, sehingga aku kalah dibanding temanku yang jauh lebih rajin dibanding aku. Filosofinya sama seperti yang disampaikan Ustad Salman di Negeri 5 Menara, pedang karatan dan tak terlalu tajam lagi pun dapat membelah kayu jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, apalagi pedang tajam yang sering diasah. Otak kita pun seperti itu. Banyak orang yang tak jenius dan tak berpendidikan tinggi, tetapi berhasil. Mereka bersungguh-sungguh dan sulit putus asa. Apalagi jika kita memiliki otak dengan IQ di atas 120an, di atas rata-rata. Alhamdulillah, dua kali aku mengikuti tes IQ, hasilnya selalu menunjukkan bahwa IQku di atas rata-rata (tak enak menyampaikan besarannya). Sayang, seperti yang dikatakan guruku, aku tak rajin, aku tak terlalu bersemangat, aku terlalu pasif. Hal itulah yang akhirnya menjadikan hidupku seperti sekarang, tak terlalu bermakna. Aku menjadi lebih mirip seperti pengeluh ulung yang selalu mengeluh dengan keadaanku. Aku tak mencoba mengubah keadaanku, bagaimana mungkin keadaanku menjadi lebih baik.
Man Jadda Wajada, Siapa yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil. Aku kurang bersungguh-sungguh itu, maka aku menjadi kurang berhasil. Menyaksikan Kick Andy semalam, bulir bening di mataku hampir tertumpah (baru hampir, karena aku malu jika ketahuan menangis oleh si Abang yang kebetulan menonton bersamaku). Menyaksikan banyak rangkaian kata-kata inspiratif ust. Hasanain. Tiba-tiba aku ingin merasakan kehidupan di pesantren. Entahlah, banyak sekali yang kuingingkan sekarang.
Man Jadda Wajada, Siapa yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil. Kalimat singkat ini, yang tiba-tiba memberikan tamparan padaku. Kalimat singkat penuh makna ini menguatkan aku untuk kembali bermimpi. Bukankah tidak kata terlambat untuk berbuat kebaikan? Aku tetap ingin menjadi pendidik, tetapi tidak bersenjata kemampuan matematikaku. Aku ingin menjadi pendidik, melalui tulisanku. Aku tahu, masih sangat banyak yang harus aku pelajari. Sangat banyak, malah mungkin aku harus memulai dari nol. Tetapi, aku yakin aku bisa. Aku harus punya mimpi. Seorang sahabat pernah mengatakan padaku, aku harus merealisasikan mimpiku. Bagaimanapun jalanku saat ini, aku harus bisa. Mimpi, bermimpilah. Man Jadda Wajada, teriakkan itu berulang-ulang!!!
*NB : terima kasih untuk semua sahabatku, aku merasa sama seperti Alif. Memiliki sahabat-sahabat seperti kalian, layaknya Sahibul Menara. Kalian luar biasa, aku mencintai kalian (semoga tak bosan mendengar kalimat ini yaah ^_^). *Inspired by film "Negeri 5 Menara", baca ulangnya novelnya aaah :D


Tidak ada komentar:
Posting Komentar