Kamis, 09 Februari 2012

karena SIAP dan INGIN itu, BERBEDA

Seharusnya postingan ini muncul di hari Rabu tanggal 08 Februari 2012, semalam. Namun, karena merasa terlalu bahagia kemarin, lelah juga terlalu mengganggu. Bahagia karena dapat bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat lama dan juga bahagia karena belajar terlalu banyak kemarin. Pelajaran yang satupun takkan ku dapatkan dari pendidikan formalku. Dan beginilah ini dimulai.......

Jadi, hari rabuku dimulai dengan kekhawatiran akan nasib skripsiku. Loh? Printerku tiba-tiba ngadat dan tak juga mau berdamai denganku meski sudah satu jam diotak-atik. Hasilnya tetap saja sang kertas ukuran Q4 itu enggan keluar dari printer dengan huruf-huruf yang sudah kurangkai sebelumnya. Akhirnya aku menyerah ketika melihat jam di laptop yang menunjukkan pukul 08.29 WIB. Aku punya janji penting pagi ini, janji dengan orang-orang yang sudah sangat kurindukan, SOULMATE ♥. Janji yang sudah dua kali didelay, tak boleh lagi diundur mengingat kemungkinan tidak akan ada lagi waktu tepat  untuk berkumpul. Segera kumatikan laptop dan mengambil handuk untuk segera mandi. Tak sengaja melihat ke arah jendela dan taraaa, di luar hujan. Aduuh, bisa-bisa gak jadi lagi ini, batinku. Tapi, apapun aku harus mandi. Entah jadi atau tidak, toh aku tetap harus mandi hari ini :D
Selesai mandi, segera kulihat lagi cuaca di luar, masih galau. Gerimis masih mengundang *rasa kantuk dan malas*. Aku periksa handphoneku menanti balasan pesan dari Zyska, salah seorang sahabat. Akhirnya walau badai menghadang *ceile*, kami putuskan untuk tetap bertemu. Jadi, janji penting ini dalam rangka menjenguk salah satu sahabat yang baru melahirkan. Sudah dua minggu sejak dia melahirkan dan kami belum menjenguk keponakan pertama kami. Berhubung semua dari kami sedang punya sedikit waktu luang dari rutinitias masing-masing, maka diputuskan untuk segera menjenguknya.
Akhirnya, pukul 09.30 WIB aku dan Zyska berangkat bersama dari rumahku menuju rumah sang sahabat, Ayie, begitu kami biasa menyapanya. Sahabat yang usianya paling muda diantara kami, tetapi punya watak paling dewasa diantara kami dan tentu yang menikah paling dulu diantara kami *smile
Menuju ke rumah Ayie diiringi gerimis *aku suka*, di kepalaku tak berhenti membayangkan bagaimana keponakanku itu, Mirip Ayie atau mirip suaminya? Pastinya tak akan mungkin tak mirip keduanya *intermezzo*. Setiba di rumahnya, kami disambut oleh adiknya yang segera memanggil 'kak Ayie' karena didatangi dua manusia yang mungkin ingin menumpang berteduh karena kehujanan. Dan akhirnya, orang yang ingin kami temui segera menyambut kami dengan senyum manisnya dari dalam rumahnya. Kami dipersilahkan masuk dan kami memintanya untuk menukar baju karena akan ada dua laki-laki lagi yang akan ikut serta menghampiri rumahnya. Selama ia menukar pakaiannya, kami duduk di samping sang bayi yang sedang terlelap di dalam tudung jaring-jaringnya. Mungil sekali, hanya kalimat pujian untukNya yang mampu berbisik di telingaku. Di dalam tubuh mungil itu ada roh yang siap untuk menjadi dewasa suatu hari nanti. Matanya belum terbuka secara sempurna sehingga ia pasti belum bisa melihat dua tantenya yang cantik ini. Cantik, pikirku sesaat. Tak lama, dua sahabat lain - Falio dan Ichan - tiba di rumah Ayie. Ayie belum juga selesai menukar pakaiannya. Sembari menunggu datangnya Ayie, kebiasaan curcol tak jelas pun terjadi.
Falio, si ayah, sang sahabat yang sedang galau dalam penantian penempatannya bercerita tentang bagaimana 'tak enaknya' menjadi pengangguran dalam masa penantian. Walaupun sudah dilabeli sebagai 'calon pegawai', dia tetap dengan kecerewetannya dan kami selalu rindu dengan hal itu :)
Ichan, sang karyawan tambang batu bara di Banjarmasin, Kalimantan Selatan hanya bisa pulang dua bulan sekali dengan jatah libur dua minggu. Seperti biasa, dengan 'kepolosannya' selalu mengudang gelak tawa yang akhirnya membuat mukanya memerah. Terlihat semakin dewasa saja laki-laki ini ^^v
Zyska, si bunda yang sudah dapat ayah baru "*upps*, calon S.Ked di bulan Maret ini sedang sibuk dengan Blackberrynya. Ternyata dia sedang sibuk chat dengan 'teman' semasa SMA yang semakin membuat kami terhanyut dengan kenangan masa sekolah. Sayang, kami tak punya waktu yang membuat kami bisa sering bertukar kabar. Bertukar kabar hanya bisa dilakukan via sms, facebook, twitter, dan terkadang whatsapp. Tapi, terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah menemukan berbagai produk itu. Jika tidak, maka kami benar-benar akan saling mengisolasi diri dari kabar masing-masing.
Kemudian Ayie selesai menukar pakaiannya dan membawa nampan berisi 4 gelas air dan sekaleng roti. Dia kemudian duduk di kursi yang masih kosong di sisi sana sambil sesekali melihatnya bayinya. Setelah mungkin hampir tiga tahun tak berkumpul lengkap berlima, akhirnya karena lahirnya Ayie's junior kami bisa duduk berdekatan begini lagi. Benar, sudah tiga tahun. Kalaupun berkumpul ketika libur atau ada kesempatan, pasti ada saja salah satu dari kami yang tidak bisa. Dan hari ini, kami kumpul berlima, SOULMATE ♥. Rinduku seketika membuncah untuk mengucap kata itu.
Ayie mulai menceritakan proses kelahiran anaknya hingga sang Airin kecil lahir di tanggal 27 Januari 2012 lalu. Ayie melahirkan di salah satu rumah sakit di Jambi dan baru tiba di Palembang beberapa hari sejak kelahiran Airin. Pembelajaran saat itu yang ku ambil : Manusia bisa berencana, Allah yang berkehendak. Ayie diperkirakan dokter akan melahirkan tanggal 18 Februari dan ia melahirkan tanggal 27 Januari. Meleset hampir  20 hari. Meskipun itu hanya perkiraan dokter, tetapi kembali lagi pada kehendak dan perjanjian Airin denganNya.
Airin kecil terdengar suaranya, Ayie segera mendekat. Aku dan Zyska pun mendekat, sedang dua laki-laki itu tetap menunggu di ruang tamu Ayie. Ternyata Airin pup dan harus diganti popoknya. Walaupun belum terlalu cekatan, tapi Ayie melakukan penukaran popok dan bajunya dengan sangat baik. Waduuh, ini gerakan hatiku yang pertamaku, SIAPkah aku melakukan seperti apa yang dilakukan Ayie barusan? Hal yang terlihat mudah saja tetapi hal yang sangat sulit. Mengangkat bayi untuk berganti popok di usianya yang baru 2 minggu itu sedikit menakutkan bagiku. Bagaimana nanti jika sampai salah posisi menggendong? Bagaimana jika gurita yang digunakan tidak terikat dengan kencang atau malah terlalu kencang? Aah, SIAP dan INGINku kembali terusik saat itu. Selesai Airin kecil diganti baju dan popoknya, Ayie menggendong Airin untuk duduk bersama kami di ruang tamu. Beberapa detik melihat wajah Ayie, senyum selalu tersungging di bibirnya saat memandang Airin. Ahh, INGINku kembali membuncah. Sepertinya begitu bahagia ketika melihat ada makhluk mungil cantik dari rahim kita. Kami berebutan untuk mendapatkan gambar si Airin, bayi memang selalu menjadi objek yang paling indah :D
Ketika melirik jam tangan, sudah hampir pukul 11.30 WIB dan Zyska harus segera menuju kampusnya karena ia memiliki janji dengan seorang temannya untuk mengurus pendaftaran wisudanya. Mau tak mau, acara kumpul hari itu harus diselesaikan dan mengingat aku juga berencana untuk menemui dosen pembimbing skripsiku di kampus bukit, aku pun harus segera pergi. Tetapi, mengingat apa yang akan aku dan Zyska lakukan di kampus hanya akan memakan waktu yang singkat, tiba-tiba kami menyusun sebuah rencana kumpul lanjutan setelah urusan masing-masing selesai. Kami berjanji untuk membahas lanjutan rencana itu via sms. Akhirnya, kami berempat pamit dari rumah Ayie setelah hampir 1,5 jam membuat sedikit keributan di rumahnya. Sesaat kemudian, aku dan Zyska bersama duduk di halte Transmusi untuk menuju tujuan kami masing-masing. Tak lama, aku mendapat sms dari seorang teman sekelas yang juga berencana bimbingan dan sudah berada di kampus bukit lebih dulu dariku. Ternyata sang ibu dosen baru bisa membimbing di hari Jumat. Kegalauan kembali menggelayuti. Haruskah aku kembali ke rumah untuk 'tidur' padahal aku sudah bedrest hampir seminggu gara-gara sakitku. Zyska mengajakku untuk menemaninya hari itu. Aku berpikir-pikir, lebih baik begitu. Minimal aku harus tahu keadaan kota Palembang setelah satu minggu aku tak melihatnya. Akhirnya kami keluar dari halte Transmusi dan memutuskan untuk sekedar menggunakan angkutan kota karena jarak yang akan ditempuh tidak terlalu jauh *tujuan pertama Zyska yaitu Foto Studio Raja di depan Hotel Novotel*. Seketika aku langsung ingat janji yang masih menggantung dengan dua sahabat lainnya tadi. Kumpul sesi kedua. Segera ku kirim pesan ke Ichan dan akhirnya kami sepakati untuk melanjutkan 'temu kangen' kami di Palembang Square *PS* untuk sekedar makan dan duduk bersama.
Zyska turun di depan Novotel dan aku melanjutkan perjalanan menuju PS. Aku pikir lebih baik aku langsung menuju PS dan sekedar berkeliling. Akhirnya setelah memasuki beberapa saat episode menunggu hari itu, kami berkumpul lagi. Karena lapar, Solaria menjadi tujuan pertama kami. Setelah memesan masing-masing makanan, kami memanggil pelayan untuk segera melayani pesanan kami. Ketika pelayan sibuk menghitung biaya makanan kami, Falio menyikut Ichan untuk mengeluarkan uangnya untuk membayari makanan kami. Ternyata memang benar, bersilaturahmi itu membuka rejeki yang besar. Makan siang enak hari itu ditraktir Ichan *muka Ichan memerah seperti biasa*. Setelah uang diberikan Ichan sebesar nilai yang disebut sang pelayan, kami kembali membuka cerita. Melanjutkan cerita yang kami cut ketika di rumah Ayie tadi. Ceritanya tak jauh dari kenangan masa SMA. Memandangi satu persatu wajah mereka bertiga sedikit melegakanku. Apalagi ketika Zyska menyampaikan ia bangga memiliki sahabat-sahabat seperti kami, akupun ingin mengatakan begitu. Aku bangga, bahagia, dan bersyukur karena Allah mempertemukan aku dengan orang-orang seperti mereka. Bersyukur tak henti karena aku dipertemukan dan dipersatukan dengan saudara-saudara seperti ini. Karena Solaria terkenal dengan 'lama yah'nya, pembicaraan semakin panjang. Kini sudah tak lagi membahas mengenai kenangan masa lalu. Pembicaraan mulai memasuki ke ranah 'masa depan'.
"Nanti jika kita kumpul dengan status kita sudah nikah, kita bakal ngomongin apa yah?"
"Nanti kalo kita kumpul, kita bakalan bawa anak kita masing-masing" yang segera kutimpali dengan jawaban "Iya, kita bawa anak kita dan bakal lebih sibuk ngurus anak masing-masing. Nah, laki-laki berdua ini mah bakal tetep keliatan single karena anaknya ditinggalin sama istrinya" yang dijawab dengan senyum-senyum tak jelas dari keduanya
Pertanyaan kapan akan segera menyusul Ayie pun tak lepas dari pembicaraan kami. Rencana '2012'ku pun terus dipertanyakan oleh Zyska. Hanya kujawab "karena target wisudaku meleset dari Maret 2012, jadi target nikahnya juga diundur sampai waktu yang tidak ditentukan". Dalam hati bergumam "belum punya skripsi, belum dapet SIM *Surat Izin Menikah* dari sang wali nikah". Tetapi, lebih dari sekedar itu, hatinya berdesis tentang keSIAPan. Ketika aku mengutarakan untuk segera menyempurnakan separuh agamaku di 2012 ini, itu karena aku SIAP atau hanya karena INGIN?
Sepanjang perjalanan pulang dan hingga pagi ini aku mempertanyakannya dalam hati. Masalah 'menyusul' Ayie bukan cuma sekedar masalah INGIN. Si Icha, sepupuku yang baru empat tahun itu pun sudah punya rasa INGIN untuk hal itu ketika ia pulang dari menghadiri pesta resepsi keluarga atau siapapun. Jika aku merencanakan segera menyusul Ayie hanya karena aku INGIN, toh aku tak berbeda jauh dari Icha. Sia-sia dong aku berseragam selama 13 tahun dan menggunakan almamater 'kuning' itu selama delapan semester jika pemikiranku tak jauh dari anak PAUD itu.
Beberapa bulan lagi pun seorang sahabatku dari SD akan segera menyempurnakan agamanya. Sebenarnya INGIN itu semakin membuncah. Apalagi ketika aku melihat seorang uniku yang baru menikah beberapa bulan lalu dan sekarang sedang mengandung, ia begitu bahagia. Senyumnya tak pernah terlepas dari bibirnya. Ia pun semakin terlihat cantik sejak resmi menjadi istri sang aa' *sapaan pada kakak ipar itu*. Aah, semakin hari INGIN itu semakin KUAT, tetapi semakin terganjal juga oleh SIAPku yang semakin ku pertanyakan.
Apalagi ketika aku memutuskan untuk segera 'menyusul' menjadi seorang istri, bukankah aku juga akan segera 'menyusul' Ayie menjadi seorang ibu. SIAPkah aku? Mungkin tidak dalam waktu dekat. Mungkin aku belum SIAP untuk tidak ikut duduk bersama teman-temanku untuk sekedar menyantap es krim bersama. Mungkin aku belum SIAP untuk tidak mengajak teman-temanku memesan sebuah ruang karaoke selam 2-3 jam. Mungkin aku belum SIAP untuk tidak berbalapan ria di Amazone atau di Fun World. Mungkin aku juga belum SIAP untuk tidak berkicau ria di jejaring sosial yang ku miliki. Dan intinya AKU BELUM SIAP untuk 2012 ini.
Saat ini cukup berpikir untuk menyelesaikan studiku sesegera mungkin, mewujudkan impian kecilku *memiliki minimal sebuah novel dengan menampilkan namaku sebagai penulisnya*, dan menjadi pribadi yang lebih baik-memantaskan diri untuk menjadi baik. Tak perlu ragu dan takut, yang baik untuk yang baik dan yang keji untuk yang keji, sesuai dengan janjiNya. Aku percaya itu. Menjadi lebih baik sebagai upaya memantaskan diri untuk  mendapatkan yang baik pula. Hanya karena SIAP, bukan hanya karena INGIN. Karena SIAP dan INGIN itu, BERBEDA ^_^

*Rabu, 08 Februari 2012 terurai banyak doa. Semoga aku selalu didekatkan dengan orang-orang yang mengisi hariku itu. Terima kasih untuk semua hal indah kemarin. Terima kasih traktiran makan siang enak bergizinya, Ichan. Kembali menanti dua bulan yang akan datang. Terima kasih juga untuk kiriman sekantung dukunya, ayah *Falio. Selamat dan Sukses untuk gelar S.Kednya, Zyska. Dan pastinya Selamat untuk lahirnya buah hati mungil untuk Ayie. Silaturahmi memang memperpanjang usia dan pastinya melapangkan rezeki. SOULMATE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar