Postingan ini dibuat di tengah kekecewaanku pada perkembangan skripsiku. Sebenarnya bukan kecewa pada skripsi. Merasa sedikit kecewa pada ketidakberdayaan salah satu PS untuk membimbing di tengah kesibukan menjelang visitasi, yang pada akhirnya seluruh mahasiswa bimbingannya harus digantung selama satu minggu. Bimbingan disarankan dilakukan dengan mengirimkan file skripsi ke email sang dosen. Tetapi, ketidak yakinan akan diabaikan sangat besar. Jelas saja, bertatap muka saja terkadang ada saja poin yang belum tersampaikan, apalagi melalui email. Efektifkah? Ketakutan untuk tidak dibuka pun justru lebih besar. Merasa cukup sesak sebenarnya, mengingat aku dideadline segera penelitian dan sidang, tetapi aku tak dibimbing. Tak ingin berharap banyak pada manusia sebenarnya mengingat berharap pada manusia hanya kekecewaan yang dirasa, tetapi apakah bisa? Seandainya bisa menyelesaikan ini tanpa dibimbing, mungkin besok akan kudaftarkan diriku untuk segera sidang skripsi -_-
Ahh, sebenarnya ini bukan postingan untuk mengungkapkan kekecewaan dan keluhanku, hanya sedang menggambarkan suasana hati ketika memulai untuk menulis ini. Menulis memang terkadang menjadi sebuah pengobat kekecewaan. Apalagi mengingat ada sebuah PR menulis dari seorang teman, mengenai #Tag Berantai. Sebenarnya saya tidak termasuk dari orang-orang yang ditugaskannya, tetapi ada alasan yang telah dikonfirmasi sang pemberi tugas mengenai tak diundangnya aku di PR ini. Sedikit tergelak membaca pesan singkat klarifikasinya. Penakut sekali adek ni ^^
Aku sebenarnya bingung tugas ini. Menyalin dari blognya, tugas ini disebut Tag Berantai Resolusi Dua Belas.
"Tag Berantai Resolusi Dua Belas adalah tugas memposting dengan mengerjakan beberapa pertanyaan yang dilontarkan pihak pengirim tugas."
Dalam hal ini yang telah dengan sadis mengirim tugas adalah seorang sahabat, Tria Gustiningsi (atau mungkin namanya itu Tri Agus Tiningsi :p) melalui blognya di "mutiarakeluarga3.wordpress.com". Ketika membaca 5 soal yang diberikannya, alamaaaaaak... Susah sekali pertanyaannya, jadi aku tak yakin mampu menyelesaikannya dengan baik. Tetapi, coba dihitung saja berapa kata yang aku ketik di postingan ini, mungkin aku akan dapat nilai yang cukup tinggi (bisa???).
Baiklah, dari lima pertanyaan yang dilontarkan aku hanya yakin mampu sedikit menjawab tiga saja, dan itu pun tidak sempurna. Tetapi, harap maklum dengan kekurangberdayaanku. Masih harus belajar banyak, mohon bantuannya ^_^
Mari kita mulai. Pertanyaan pertama : Deskripsikan diri anda dalam 12 poin, 1 poin 1 kata saja!
Menilai diri atau mendeskripsikan diri terkadang begitu sulit, terutama bagiku. Terkadang aku terlalu sibuk menilai orang lain sehingga tak sempat menilai orang lain. Tetapi, aku coba mendeskripsikan diri berdasarkan penilaian para sahabat mengenaiku.
1. Sanguinis, sebenarnya ini cukup mewakili pertanyaan ini. Karena di dalam karakter ini, semua tentangku sudah tergambar. Bahkan lebih dari 12 sifat -_-
2. Pemimpi
3. Moody
4. (mantan) Aktivis
5. (calon) Penulis
6. (sedang belajar) Baik
7. Pemilih (makanan khususnya ^_^)
8. Peminat (berbagai bacaan)
9. Penikmat (musik dan K-Drama)
10. Setia (gleeeeek...)
11. Jujur, terlalu sulit berkata apalagi mendeskripsikan diri hanya dengan satu kata. Itu sebabnya yang memberi tugas ini aku sebut "SADIS"
12. Sekian......
Alhamdulillah, satu pertanyaan selesai. Benar-benar bingung bagaimana menjawabnya. Aku Sanguinis, itu cukup. Setuju??
Lanjut ke pertanyaan kedua : Sebutkan 12 hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru dalam mendidik karakter anak bangsa!
Seharusnya, aku meminta pertanyaan lain, mengingat saat ini aku masih belum ingin menjadi guru. Bukan, bukan karena alasan apapun. Menjadi guru itu sulit, sangat sulit. Mungkin sebagian orang akan dengan yakin mengatakan menjadi guru itu mudah. Toh, tinggal rajin datang ke sekolah, selalu masuk kelas tepat waktu, mengajar di depan kelas dengan memegang spidol (plus penggaris panjang bagi guru Matematika untuk menggambar grafik atau jaring-jaring limas), dan berharap ilmunya tertransfer sempurna ke siswa. Indikator keberhasilannya, siswa dapat lulus Ujian Nasional dengan nilai bagus. Begitukah? Ternyata aku memiliki pandangan berbeda. Syarat pertama menjadi guru itu menurutku, hhmmm. Harus BAIK. Baik dalam penilaianNya, bukan penilaian manusia. Di depan manusia manapun kita bisa menjadi (SEOLAH-OLAH) baik, tetapi tidak di hadapanNya. Menjadi GURU itu tidak mudah teman, terlebih setelah selama tiga bulan masa PPL ku. Saat itu aku baru bisa membuka mata dan memaknai, siapa guru sebenarnya. Yang mana yang GURU, yang mana yang TENAGA PENGAJAR. Siapapun dia, pasti dia akan mampu menjadi pengajar, tinggal menyampaikan dan menransfer ilmu yang dimiliki, tanpa harus memikirkan bagaimana keadaan yang diajarnya.
Selain BAIK, guru juga harus PEDULI. Yah, peduli pada siswa, pada lingkungan, pada kondisi, pada segala hal. Menjadi seseorang yang peduli memang sulit, benar-benar sulit. Terkadang kita cenderung hanya terpatok pada diri. Aku orang yang seperti itu. Yang penting aku nyaman, aku tak tersakiti, aku tak peduli pada orang lain. Nah, bukankah aku tak pantas menjadi guru? Bagaimana seandainya aku menekuni profesi guru, aku yakin aku hanya akan menambah ke'bencian' siswa pada mata pelajaran yang ku ajar, mengingat studiku di mata pelajaran yang banyak 'anti-fans'nya.
Guru pun haruslah seorang yang bisa memberi motivasi, atau yang sedang nge-trend sekarang disebut MOTIVATOR. Meski tak harus seterkenal Mario Teguh, guru harus mampu memotivasi siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lah aku, memotivasi diriku untuk segera menyelesaikan skripsi saja sulit, bagaimana aku bisa memberi motivasi pada siswa nanti. Ahh, semakin gentar aku menjadi guru.
INSPIRATOR, menjadi guru juga harus memberi inspirasi bagi siswa untuk menjadi orang-orang baik. Aku sebut baik (bukan hebat), karena baik adalah penilaiannya yang mutlak. Baik mencakup banyak aspek, sehingga aku mencoba menilai orang dari kebaikannya (meski aku tak pantas menilai orang lain). Pernah mendengar ungkapan "Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik". Tak perlu dijelaskan, semua pasti paham maknanya. Dan berusahalah saat menjadi guru kelak menjadi seorang guru yang mampu memberikan inspirasi bagi siswa untuk menjadi orang baik. Aku belum baik, jadi belum mampu berangan-angan menjadi guru.
Mungkin melenceng dari pertanyaan, tetapi karena memang aku mempunyai mimpi lain *selain menjadi guru*, aku akan berusaha di mimpiku ini. Meski ketika lulus aku akan bergelar Sarjana Pendidikan yang mayoritas lulusan dengan gelar ini akan berprofesi menjadi guru, aku tidak. Aku akan tetap menjadi pendidik. Menjadi pendidik di keluargaku kelak, membantu sang pemilik tulang rusuk mendidik generasi kami selanjutnya, dan dengan profesi mimpiku aku akan tetap mendidik dan berbuat yang terbaik untuk negeri ^_^
The last question which i'll answer : Sebutkan 12 cara persuasif untuk menanamkan pendidikan islami kepada anak!
Lagi-lagi pertanyaan ini sangat sulit kujawab, karena aku belum pernah mencoba mencari referensi tentang ini. Selain itu, aku juga belum memiliki seorang pun anak -_-
Aku 'benar-benar' baru merasa Islam pun ketika aku menjadi mahasiswi yang ditandai dengan tertutupnya seluruh auratku, meski masih belum sempurna. Minimal, identitas muslimahku nampak di seluruh orang dengan jilbab yang kukenakan sejak 3,5 tahun ini. Sebelumnya, aku memang bukannya tidak kenal Islam. Aku menjadi seorang santri TPA sejak aku kelas 1 SD. Aku menjalankan Shalat, aku mampu mengaji dengan tajwid, aku mengenal puasa sunnah, tetapi aku tak memahami Islam secara kaffah. Meski di rumah, aku selalu diajarkan untuk tidak meninggalkan shalat, tetapi Islamku saat ini kucoba temukan sendiri. Sehingga aku sangat bingung menjawab pertanyaan ini. Aku masih sangat harus banyak belajar saat ini, sangat.
Aku memiliki seorang sepupu berusia 4 tahun di rumah. Antusiasnya terhadap agama lebih dari cukup. Ia sudah tahu bahwa Shalat wajib itu lima kali sehari, ia pun tahu banyak rakaat dari masing-masing shalat. Ia tak pernah ketinggalan Shalat Maghrib. Ia sudah bisa mengucap Syahadat beserta artinya, hapal doa akan dan selesai makan, doa akan tidur, doa ibu bapak, bahkan terkadang ia sudah mampu mengikuti bacaan Al-Fatihah. Ia mengucap Basmalah ketika akan memulai makan, mengucap Hamdalah ketika merasa kenyang dan bersin. Tak jarang ia juga ikut memegang (dan seolah membaca) Yasin ketika kami membaca Al-Quran ketika selesai Maghrib. Keingintahuan tentang keberadaan Allah pun selalu dilontarkan dengan pertanyaan "Mengapa, Bagaimana, Dimana....". Mungkin aku hanya bisa menjawab pertanyaan terakhir ini dengan satu kalimat, "Ciptakan suasana Islami di rumahmu". Sepupuku itu melihat kondisi rumah yang memang berbalut nuansa Islami (meski tidak terlalu ketat). Harus ditanamkan ketakutan pada Allah, jika ia berbuat salah ingatkan yang akan memarahi bukan ibu atau ayahnya, tetapi Allah. Sepupuku terkadang menyentil kami dengan kelalaian kami pada agama. Terkadang, ketika kami sedang 'haram' menjalankan Shalat, kamipun ditegur karena tidak menjalankannya. Sulit sekali menjelaskan hal itu kepada anak usia empat tahun. Menanamkannya juga seharusnya dari usia yang sangat dini. Sepupuku mungkin sudah setahun ini yang rajin bertanya mengenai agama pada kami, meski memang sangat tidak mudah menjelaskannya pada anak sekecil itu. Aku rasa tidak mungkin kita mengucapkan ayat Al-Quran atau hadist untuk menjawabnya. Hmm, menghadapinya mungkin melalui pendekatan yang bisa diterima akal anak seusia itu. Selain itu, sepupuku juga bersekolah di PAUD Aisiyah, milik yayasan Muhammadiyah. Bisa dibilang, dibutuhkan bantuan didikan agama dari sekolahnya. Melihat teman-temannya membaca doa sebelum makan beramai-ramai, anak-anak cenderung meniru.
Aahhh, lagi-lagi aku tak mampu menjawab sempurna. Hanya berharap ibu guru Tria Gustiningsi (aku tak rela memanggilnya seperti ini) berbaik hati untuk memberikan nilai yang baik untuk PR ini.
Untuk pertanyaan keempat dan kelima, maaf bu. Aku benar-benar tak mengerjakannya. Tetapi, aku berharap ibu bisa memberikan penilaian dan aku akan sangat senang jika ibu memberikan soal-soal lagi untuk remedial tugas kali ini. Terima kasih bu, setelah seminggu saya tak menulis, hanya menyimpan di draft ide saya, hari ini saya kembali menulis. Terima kasih banyak bu cut (naaah, ini panggilan sayangku :*), terima kasih sahabat. Aku mencintaimu, eh kalian, karena Allah ^_^
Semangaaaaat!!!!!
Semangaaaaat!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar