Minggu, 12 Februari 2012

Bersahabat dengan Hujan

Mungkin Februari memasuki puncaknya musim hujan. Ketika musim tak lagi mampu dikenali. Ketika masa sekolah dengan  jelas aku mengingat waktu-waktu perbedaan musim. Musim kemarau di bulan-bulan Mei-Oktober dan musim hujan di bulan November-April. Namun, musim tak lagi mengenal bulan-bulan itu. Terkadang di bulan Juni menjadi bulan penuh dengan guyuran hujan. Bahkan Januari lalu cuaca masih terlalu panas jika digolongkan musim hujan. Berdasarkan penelitian dan beberapa sumber disebutkan bahwa ini karena kerusakan ozon yang semakin memburuk yang menyebabkan panas di bumi menjadi meningkat. Ditambah pemberitaan bahwa Badai Matahari akan menyinggahi bumi dalam waktu dekat dan rentang waktu yang belum bisa diprediksi berapa lama. Ada apa dengan bumi? Bagaimana kehidupan kita selanjutnya? Akankah 'kiamat 2012' benar-benar terjadi?
Allahualam, bukan hak kita untuk ikut campur urusan dan ketentuanNya. Kita cukup menjalankan apa yang seharusnya kita jalankan dan menjauhi apa yang harus kita jauhi karena segala sesuatu yang terjadi sudah ada diatur dengan sedemikian rupa.

Tiba-tiba menertawakan diriku, prolognya sok bijak neng... Menyadari diri ini jauh dari kata 'baik', walau hanya sekedar mengucap rangkaian kata di atas. Tetapi, hujan yang cukup 'ekstrim' beberapa hari ini sedikit mengusikku. Mengusik untuk *lagi-lagi* menyampaikan jutaan rindu pada orang-orang terkasih, yang tak mampu aku ucapkan secara langsung. Hanya ketika hujan 'ekstrim' datang, tiba-tiba ketakutan untuk tak lagi mempunyai kesempatan untuk merangkai makna bersama orang terkasih, selalu menyergap. Hujan dengan kilat dan petir yang selalu mampu membuatku ketakutan terkadang membuatku berpikir mungkin itu batas waktu perjanjianku dulu denganNya untuk segera 'kembali'. Meski terkadang, lebih sering merasa bahagia karena mendengar derai hujan yang berlomba-lomba menciptakan alunan indah, khas mendung.

Kemarin mungkin menjadi salah satu kenangan bersama mereka yang akan selalu diingat. Sabtu, 11 Februari 2012, di bawah tetes-tetes hujan mencoba menulis berbagai rasa. Meski sudah diingatkan orang-orang di rumah dengan kondisi tubuh yang belum fit 100% untuk kembali menempuh hujan, hatiku telah teguh untuk keluar siang itu. Mencoba memberikan kontribusi di akhir-akhir 'nyawa' mahasiswaku. Musyawarah Raya (MUSRA) HIMMA 2012, menjadi awal periode kepengurusan HIMMA periode 2012-2013. Tahun ini dilaksanakan di rumah Dwi, salah satu pengurus HIMMA angkatan 2011. Rumahnya yang  terletak di daerah Sako semakin menguatkan aku untuk datang. Tak terlalu jauh pikirku. Dengan beberapa sahabat 2008 kami berjanji untuk datang setelah semua janji dan urusan masing-masing selesai. Meskipun kami tak lagi memiliki hak suara, tetapi kehadiran kami sangat diharapkan oleh adik-adik kami. Oleh karena itu, meski mendung sudah menggelayuti langit sejak pukul 11.00 WIB, kami tetap melanjutkan rencana. Hadir dengan status mahasiswa terakhir kalinya *Aamiin ^_^

Langit mendung dan matinya listrik itu perpaduan yang sempurna menurutku. Menjelang pukul 12.00 WIB, listrik di rumah mati. COCOK. Langit gelap, keadaan rumah pun gelap. Entah, mungkin terkontaminasi dengan 'cuaca ekstrim', PLN juga sering melakukan pemadaman bergilir yang cukup 'ekstrim'. Akhirnya, hampir 75% pekerjaan di rumah terbengkalai dan seisi rumah lebih memilih untuk duduk bersama di ruang keluarga. Hikmahnya sih, bisa meningkatkan kualitas hubungan keluarga. Memang segala sesuatu itu selalu ada hikmahnya yah :)
Sempat lalai Zuhur dibuat oleh keadaan gelap itu. Ketika mendapat pesan dari Ana yang mengabarkan jika dirinya dan Mimi sedang otw rumahku, dan ternyata sudah pukul 13.00 WIB, aku segera bangkit untuk segera bersiap. Setelah Zuhur, mencoba mengalahkan gelap untuk menemukan pakaian yang akan digunakan pergi siang ini. Ditemani gelap akhirnya menemukan paduan baju dan jilbab yang tak terlalu kusut karena tak bisa menyetrika. Dengan menggunakan feeling berdandan seorang wanita, akhirnya aku siap dengan tak yakin jilbabku cukup rapi. Setelahnya, menatap ke jendela dan terlihatlah langit. Hitam pekat. Cemas karena dua sahabat itu belum juga tiba padahal sudah hampir 45 menit sejak pesan terakhir dikirim. Mungkin kehujanan, pikirku. Ku coba mengirim sebuah pesan pada Ana, tetapi tak mendapat balasan. Sembari menunggu, aku mendapat pesan dari sahabat lainnya, Dhanu yang ternyata juga ingin datang ke acara tersebut. Ketika jam di dinding menunjukkan pukul 13.49 WIB datanglah dua sahabat yang rumahnya di Bukit Besar itu. Meskipun menggunakan motor, mereka tetap terkena macet. Benar-benar keadaan khas kota metropolitan. MACET. Bahkan jalan ke Perumnas, yang hanya pinggiran kota Palembang pun rawan macet. Di depan rumahku saja, jika ada satu saja angkot yang menunggu penumpang keluar dari lorong atau jalan kecil. maka macet takkan terelakkan.
Beberapa saat, semua terkumpul. Iringan 4 motor siap menyinggahi TKP. Meskipun gelap mencekam, hujan tak juga turun. Ini membuat kami optimis bahwa hujan masih 'jauh' dan masih enggan turun. Tetapi, baru sekitar 500 meter dari rumahku, hujan turun. Kebingungan menentukan tempat berteduh karena kami melewati kompleks Pusri Borang, yang notabene dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk. Akhirnya menemukan sebuah rumah tanpa pagar dan sepertinya tak berpenghuni, sementara menunggu hujan sekedar berganti gerimis, kami berhenti. Aah benar saja, fluku belum mereda. Tak berapa lama, tinggal titik-titik gerimis dan kami segera melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba aku tersenyum, Allah mengizinkanku "bersahabat dengan hujan" hari ini. Meskipun sebagian orang lebih memilih berdiam diri di bawah selimut saat ini, aku tak menyesali apa yang kulakukan siang ini. Tetapi, aduuh.. Volume titik-titik gerimis tadi meningkat menjadi hujan lagi.. Jaket yang kami gunakan sebagian sudah basah. Kembali berteduh dan kali ini berteduh di bawah sebuah pohon. Dalam hati berharap jangan sampai ada petir ya Allah. Akan menjadi headline semua media massa di keesokan hari seandainya petir datang dan menyambar pohon yang mengizinkan kami berteduh itu. Alhamdulillah, kami masih sehat hingga postingan ini selesai :D
Perjalanan dilanjutkan setelah cuma gerimis yang datang. Namun, ini kali ketiga hujan mengguyur kami dan ini terbilang paling lebat diantara yang sebelumnya. Kali ini bukan lagi senyum yang muncul di bibirku, aku menertawai diriku sendiri. Seandainya sepulang dari sini aku kembali dikunjungi migrain, bad cold, dan harus menelan pahitnya pil-pil itu; semuanya murni kesalahanku. Bandel, pasti itu kata-kata sang mama. Akhirnya, kami berteduh *lagi* di rumah Uni Leni, salah satu diantara kami, yang rumahnya akan kami lewati. Setiba di rumahnya, jaket merah hati kebanggaan HIMMA milikku, basah parah. Cukup lama hujan kali ini, sekitar hampir 15 menit hujan mereda. Jam tanganku telah menunjukkan pukul 14.40 WIB. Jika tahun-tahun sebelumnya, di waktu seperti ini mungkin sudah masuk ke acara penyampaian Laporang Pertanggung Jawaban (LPJ) oleh pengurus periode sebelumnya. Jadi, jika kami tiba beberapa menit lagi, maka kami mungkin hanya akan sekedar ikut acara Pelantikan Bupati baru.. Hadeeu, telat bener deh, pikirku. Tetapi, tak mungkin berbalik arah untuk pulang kan? Bersama-sama dengan 7 orang ini saja, aku sudah bahagia, apalagi ditambah jika beberapa saat lagi berkumpul dengan para adik tingkat.. Aahh, apapun akan ku tempuh untuk melihat senyum-senyum bahagia itu :D
Hujan mereda. Benar-benar mereda kali ini, hanya menyisakan tetesan air dari atap atau daun-daun di pohon. Kami melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba aku berpikir, Allah memang mengabulkan doa-doaku. Untuk bermain bersama orang-orang terkasih di bawah hujan. Untuk melukis cerita yang akan dikenang di masa nanti. Untuk "bersahabt dengan hujan".
Diiringi gerimis yang sesekali datang, Alhamdulillah akhirnya kami tiba di kediaman sang adik tingkat. Mungkin bagi sebagian atau hampir semua himpunan, MUSRA itu sebuah kegiatan formal yang dilaksanakan di ruang kelas atau aula dengan kursi-kursi. Tetapi, berbeda dengan MUSRA HIMMA. Gubernur Mahasiswa FKIP Unsri tahun kemarin memuji keunikan MUSRA HIMMA. Kami tetap mempertahankan makna kekeluargaan. MUSRA HIMMA selalu diadakan di rumah salah seorang panitia pelaksana yang bersedia rumahnya diacak-acak untuk beberapa hari. Entah siapa yang punya ide untuk mengadakannya di rumah seperti ini, meskipun sebenarnya ini sangat tidak efisien, mengingat tidak semua peserta dapat berkonsentrasi pada jalannya sidang, tetapi keunikan ini semoga bisa terus dipertahankan. Tetapi, pembelajaran untuk sidang yang lebih baik harus dilakukan. Semoga pengurus  selanjutnya dapat melakukannya.
Setiba di rumah Dwi, kami berdelapan disambut dengan senyuman oleh para adik-adik kami yang manis. Ternyata benar dugaanku, kami (angkatan 2008) menjadi angkatan tertua yang hadir hari ini. Belakangan diketahui, tak ada undangan kepada alumni. Semalam tersenyum ketika menerima pesan singkat dari Cut (Tria Gustiningsi) bahwa kak Ari (sapaan akrab kami pada kakak tingkat kesayangan, Nurbahari Martlan) komplain. Kak Ari tak mendapat undangan kegiatan hari ini. Padahal, jika ia mendapat undangan, ia pasti akan datang. Cinta beliau pada HIMMA mungkin belum bisa kubandingi. Ia selalu berusaha hadir di tiap kegiatan HIMMA yang mengundangnya, meski ia telah berstatus 'alumni'. Rindu membuncah padanya, rindu pada tausiyahnya, rindu pada 'marahnya' yang selalu mampu menyadarkan kami bahwa kami salah, rindu pada sindiran-sindirannya, juga rindu bagaimana kami sering mengusilinya. Akankah ketika aku telah berstatus 'alumni', adik-adikku akan merindukanku, seperti aku merindukan sang kakak tingkat? Wish ^^

Ternyata, ketika kami tiba, acara belum sejauh yang kubayangkan. Baru sebatas pemaparan hasil sidang komisi membahas perubahan AD/ART, GBHPK, dan rekomendasi. Ternyata belum terlalu terlambat, pikirku. Selama beberapa menit, sekedar menurunkan nafas yang cukup terbirit-birit dibuat hujan, kami bercengkrama dengan beberapa adik tingkat angkatan 2009 di teras rumahnya. Komentar-komentar lucu yang lama tak kudengar khas adik tingkatku mulai bermunculan. "Mbak, sibuk nian yo?". "Mbak, kurusan". "Mbak, lah nikah?".. Tooeng. Tak seharusnya aku ditanya pertanyaan terakhir kan? -_- . Kami disuguhi teh manis hangat dan bakwan goreng. Entah bagaimana caranya, tapi terasa begitu nikmat. Setelah menyelesaikan teh dan bakwan tadi, kami segera masuk ke dalam melalui jalan samping untuk mengikuti (sisa) sidang. Ternyata, di dalam adik-adik tingkat yang dirindu lebih banyak lagi banyaknya. Tetapi, hanya percampuran 2010 dan 2011. Aku hanya mengenal kurang dari 10 orang angkatan 2011. Membuatku merasa bersalah. Mungkin karena aku terlalu (sok) sibuk semester lalu. Benar-benar sibuk, sok sibuk, atau menyibukkan diri. Entahlah....
Kami masih belum bisa mengikuti lanjutan sidang dengan benar-benar khusuk. Beberapa adik tingkat yang cukup akrab tak luput dari pengamatan. Ada yang baru menggunakan jilbab, ada yang bertambah gemuk, ada yang masih siap ku usili.. Hiihihi, aku benar-benar rindu mereka. Menjadi mahasiswa tingkat akhir memang membuatku kehilangan banyak momen bersama mereka. Semoga di sisa waktu ini, masih ada kesempatan mengukir kenangan, bukan hanya dengan teman-teman seangkatan, tetapi juga dengan para penerus ini. Ketika LPJ siap dibacakan Bupati periode sebelumnya, aku berusaha fokus pada jalannya sidang. Mengamati wajah-wajah yang serius mengikuti sidang, terlihat wajah Gubernur Mahasiswa FKIP Unsri yang sedang menjabat. Seketika, aku juga rindu kebersamaan dengan keluarga BEM FKIP Unsri. Berharap, dalam waktu dekat akan ada momen di akhir kebersamaan kami ^_^
Penyampaian pandangan umum LPJ kepengurusan HIMMA periode 2011 dimulai. Aku mewakili teman-teman 2008 untuk menyampaikan pandangan kami dengan isi LPJ yang ada di tanganku. Sebenarnya merasa tak pantas mengomentari kinerja mereka mengingat aku tak banyak berkontribusi pada HIMMA. Tercatat sejak MEF 2011 berakhir, maka aku pun menyetop semua aktivitas kemahasiswaanku di kampus. Mencoba fokus pada akademik yang ternyata masih saja keteteran. Melihat banyaknya hal yang terjadi semenjak itu di kampusku, aku semakin ciut untuk kembali ke kehangatan organisasi kampusku.
Akhirnya, puncak MUSRA HIMMA 2012, pelantikan Bupati HIMMA 2012, Wahyu Wibowo (matematika 2010) dimulai. Bupati terpilih dilantik oleh Gubernur Mahasiswa FKIP Unsri, Lumantar Wahyudi (PKN 2009) yang bersedia hadir hingga sore meskipun ternyata ia memiliki agenda lain dengan rekan-rekan BEM FKIP Unsri Korwil Palembang. Wahyu mengucap sumpah di bawah Al-Qur'an untuk menjalankan kepemimpinan HIMMA selama satu periode ke depan. Mencoba mengingat-ingat, proses pelantikan dengan sumpah atas nama Allah itu sangat-sangat menakutkan. Teringat ketika dilantik menjadi Kadin Media Komunikasi pada kepengurusan BEM FKIP Unsri periode 2011 yang lalu. Belum siap untuk ditagih Allah akan sumpahku saat itu. Aku tak menjalankan janji dan sumpahku dengan baik, aku tidak menjadi seorang staf yang baik bagi pemimpinku. Malah aku mengundurkan diri di pertengahan kepengurusan dengan alasan aku tak mampu berkontribusi lagi. Mungkin pengunduran diri itu menjadi kesalahan yang paling fatal selama masaku di organisasi dan kini hanya sedang mencoba berpikir bagaimana mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti. Semoga Allah mengampuniku
Dan, semoga kemarin benar-benar menjadi kehadiran terakhirku pada MUSRA HIMMA dengan status mahasiswa. Semoga tahun-tahun selanjutnya masih berkesempatan hadir untuk reunian dengan status 'alumni'.
Masa-masa akhir ini diperindah Allah dengan hadirnya hujan. Meski sejak tiba di rumah kemarin sore hingga detik ini aku tak berhenti bersin dan bad cold ku kembali, aku bahagia. Bahagia karena melihat senyum itu. Bahagia karena diizinkan bersilaturahmi dengan para saudara di tanah perjuangan itu meski diguyur hujan. Bahagia juga karena Allah membuatku "Bersahabat dengan Hujan"

*hari ini, hujan lagi.. lagi-lagi ingin bersahabat dengannya ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar