Rabu, 22 Februari 2012

Aktivis Kampus (red : Kami), Salah Apa?

Sedikit terkikik dengan judul postingan ini, seolah-olah aku benar-benar seorang aktivis. Padahal aku hanya seorang (mantan) aktivis abal-abal di masa itu. Ku sebut abal-abal karena aku tidak sepenuhnya menjadi aktivis atau mungkin tidak seperti aktivis yang dikenal kebanyakan orang. Aku hanya aktif ketika datang masa ramai kegiatan pendidikan di kampus, yang terkadang hanya sibuk di belakang layar sebagai desainer spanduk atau pamflet.
Terkadang lebih aktif di dunia maya yang mencoba mempublikasikan kegiatan yang akan dilaksanakan. Aku tidak seperti kebanyakan aktivis yang dikenal karena karya nyata, gebrakan, dan aksi yang dilakukan untuk membela beberapa masalah sosial yang sedang hangat. Ketika datang masa 'hangat' di kampus, aku hanya akan menjadi penonton yang mencoba mendengar dan membaca keadaan sebenarnya yang sedang terjadi. Bahkan kini aku malu jika masih disebut sebagai seorang aktivis. Aku sudah melayangkan surat pengunduran diriku di pertengahan tahun kemarin dengan alasan aku sudah tak pantas berada di posisi itu mengingat begitu minimnya kontribusiku di kepengurusan yang lalu. Minta maaf pada semua pihak karena ketidakberdayaanku itu, teman ^_^

Inspirasi untuk postingan ini dikarenakan belakangan marak terdengar hal-hal sumbang mengenai aktivis. Awalnya aku tak ingin ambil pusing dan biarlah hilang begitu saja, tetapi pertanyaan-pertanyaan yang terkadang mengundang senyumku belakangan ini memaksaku untuk sedikit menjelaskan apa yang kami rasakan sebagai aktivis (aku pernah sesaat menjadi aktivis, jadi aku juga pernah merasakannya ^^).
Senin lalu, aku harus mengantri lama untuk menanti sebuah tanda tangan seorang 'pejabat' di birokrasi kampusku. Mengingat aku sangat membutuhkan tanda tangannya untuk keperluan beasiswaku, aku menanti hingga pukul 15.30 WIB. Untungnya aku bersama-sama dengan adik-adik tingkatku, sehingga aku tak merasa bosan dan merasa lebih muda (hhihihi). Setelah tiba giliranku berhadapan dengan yang dinanti, aku merasa biasa saja. Toh, mahasiswa-mahasiswa sebelumnya cuma ditanyai pekerjaan orang tuanya. Aku berdua dengan adik tingkatku. Ketika melihat dataku, yang pertama ia komentari, "Kok bisa sampe semester 8, kok belum lulus". Weeeh, aku terkejut. Aku ini baru semester 8, bukannya 18. Baru 3 tahun 5 bulan aku tercatat sebagai mahasiswa di kampus ini. Kenapa pertanyaannya begitu menyudutkan? Aku cuma bisa senyum-senyum saja, karena aku memang butuh tanda tangan beliau ditambah aku bersama adik tingkat yang tidak terjun ke organisasi kampus.
Pertanyaan lanjutan yang lebih aku tak suka dan sudah aku duga sebelumnya, berbunyi seperti ini kira-kira "Ikut demo kemarin? Kayaknya ikut ya? Kan anak-anak 2008 maunya saya turun, haa". Laah, ini aku mengerti maksudnya. Aksi tempo hari dianggap sebagai sebuah pemberontakan ternyata. Sebenarnya aku sudah siap jika ditanya hal itu oleh beliau mengingat begitu 'panasnya' suasana kampus saat itu gara-gara masalah itu. Hanya saja kenapa pemikiran para tetua itu selalu menganggap aksi (akrab disebut demo) merupakan sebuah bentuk pemberontakan anarkis yang ujung-ujungnya akan dimenangkan mahasiswa. Aku memang bukan mahasiswa yang ikut andil dalam setiap aksi demonstrasi yang dilakukan teman-teman seperjuanganku, tetapi aku selalu mengikuti dari awal hingga akhir kenapa pada akhirnya demontrasi yang dipilih. Itu bukan langkah pertama, bahkan itu langkah yang kesekian setelah semua cara dilakukan untuk menyampaikan aspirasi tak digubris. Ini negara demokrasi, tetapi kenapa hak berbicara mahasiswa diikat? Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Toh sudah begitu banyak artikel atau tulisan yang mengangkat mengenai hak setiap warga negara untuk berbicara, termasuk mahasiswa, tetapi tetap saja tak baik penilaian masyarakat terhadap mahasiswa. Terkadang, kami sebagai aktivis mahasiswa hanya dianggap sebagai kumpulan orang-orang yang suka membuat keributan dan kerusuhan dimana-mana.

Untuk masalah panas yang terakhir ini, aku benar-benar tak ingin banyak bicara mengingat aku tak berada di "TKP" saat kejadian itu terjadi. Aku sedang berlibur Ramadhan tahun lalu dan aku mendapat berita itu setibanya di Palembang. Aksi pun telah dilaksanakan beberapa kali sebelum aku tiba di Palembang dan  hanya mendaat kabar hasil dari beberapa mediasi yang dilakukan. Ketika diminta bicara oleh beberapa rekan yang kebetulan tak aktif di organisasi, aku pun tak bersedia. Aku mendapat berita sudah dari orang kesekian, jadi lebih baik aku diam dan menyuruh mereka mencari tahu sendiri mengenai kebenaran berita itu dari yang lebih paham.
Belakangan, kami dihantui ketakutan pertanyaan-pertanyaan itu dari berbagai pihak. Bahkan kami harus siap dengan senyuman ketika beberapa teman juga menganggap kami tak ada kerjaan hanya untuk 'dema-demo dema-demo'. Bukan satu kali itu saja aku dituduh ikut ambil bagian dalam aksi yang dilakukan saat itu. Bahkan pembimbingku yang tahu jika aku pernah aktif di organisasi kampus itu, beberapa kali melontarkan pertanyaan itu, "Tiwi ikut demo pasti ya". Aduuh bu, seandainya ikut pun, apa ruginya di ibu. Kenapa kami harus terus-terusan ditekan dengan pertanyaan itu? Bahkan kenapa teman-teman lain yang tak pernah menyentuh organisasi kampuspun ikut dituduh ikut aksi? Karena aku dan beberapa teman belum lulus di semester 8 kami? Menjadi begitu memalukankah jika kami masih mengurus KRS semester 8?
Aku kasihan pada teman-teman yang tidak tahu apa-apa lagi. Tetapi, aku justru lebih kasian pada saudara-saudara yang ikut aksi dan ditekan begitu dalam. Perasaan tak nyaman karena terus-terusan ditekan, itu pasti. Ditambah perasaan bersalah pada teman-teman yang tak tahu apa-apa. Iya, mereka merasa sangat bersalah karena aksi mereka ternyata juga menekan teman-teman lain. Merasa tak enak ketika tiba-tiba menjadi 'terkenal' karena dicap sebagai mahasiswa 'doyan demo'.

Karena menjadi aktivis itu memang pilihan. Kami yang memilih jalan ini. Meski banyak yang berpikir dan akhirnya berkata dengan bangga, "Kami bayar disini untuk kuliah, bukan organisasi". Aku pikir malah rugi tauuu.. Dengan Rp 740.000, aku tak hanya dapat kemampuan akademik dan sebuah gelar di akhir masa kuliahku nanti. Aku juga bisa dapat sebuah pengalaman sangat berharga yang dengan uang berapapun tak kan mampu ku bayar. Kemampuan peduli akan sosial. Bercengkrama menambah wawasan, menambah pengalaman kerja, dan sebagainya. Aku yakin, pengalaman ini yang jauh lebih digunakan di masa datang dibanding kelihaianku menghitung integral lipat tiga. Aku juga yakin takkan ada yang menanyakan IPK dan berapa lama aku menyelesaikan S1-ku. Yang masyarakat tahu hanya bagaimana kemampuan bersosialisasiku. Bagaimana aku bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Pasti itu.....

Postingan ini hanya untuk saudara-saudara seperjuangan. Meski aku tak merasakan apa yang sebenarnya kalian rasakan, minimal aku mencoba memahami situasi kalian. Aktivis seperti kita (red : kalian) tidak salah dengan aksi kalian, tidak pantas juga untuk ditekan sekeras ini. Postingan ini juga untuk teman-teman yang tiba-tiba menjadi korban ketakutan para tetua itu, yang menanyai dan menekan kalian sekeras mereka melakukannya pada sang aktivis. Anggap saja itu nukilan cerita perjalanan kalian menjadi mahasiswa di kampus ini. Para aktivis (kami) minta maaf jika semuanya mengganggu kalian. Untuk teman-teman lainnya yang juga mungkin pernah melihat kami dengan tatapan aneh, senyum penuh cibiran, dan anggapan 'pemberontak', tolong mengerti posisi kami (red : aktivis). Jika kalian berada di posisi ini  pun pasti kallian akan melakukan seperti yang dilakukan para aktivis itu dulu. Hanya saja, kalian belum berkesempatan.

Postingan ini hanya sebuah ungkapan hati dan sedikit dari berjuta pertanyaan di kepalaku. Apa salahnya menjadi mahasiswa hingga semester 8? Siapa yang akan iseng bertanya berapa IP-ku tiap semester? Apakah kami membuat dampak buruk bagi prodi dengan status semester 8 ini? Kenapa tidak berhenti bertanya, berhenti menekan, dan membantu kami sehingga kami takkan menyicipi semester 9? Lalu, apa salah mahasiswa menjadi aktivis? Terakhir, aktivis kampus seperti kami, apa salahnya??

*NB : postingan ini hanya ungkapan hati, sekali lagi hanya ungkapan hati. tidak untuk menyinggung siapapun, terima kasih ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar