Selasa, 14 Februari 2012

Sweet Tamarine, Asem yang Manis

14 Februari 2012, 06.05 WIB
Pagi ini lagi-lagi dibuat risau dengan kondisi printer yang acak-acakan. Sepertinya tak lagi bisa digunakan untuk bekerja berat, mengubah tulisan-tulisan di laptop ini menjadi rangkaian kata yang bisa di baca di kertas. Berpikir keras untuk mendapatkan 'dana' tambahan bulan ini, untuk segera menemukan pengganti printer yang telah menemaniku selama hampir 6 semester. Kesetiaan printer ini telah teruji. Tiga kali selama tiga tahun berturut-turut diajak untuk berkontribusi pada LCCM, ia tak pernah berontak Tak jarang juga ia digunakan untuk kegiatan-kegiatan BEM. Anehnya, ia malah tak lagi sudi digunakan ketika aku akan mengerjakan tugas akhir. Mungkin ini tanda-tanda bahwa printer pun senang diajak menjadi 'seorang aktivis kampus' dibanding mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan akademik *pembelaan diri mengingat deadline skripsiku yang semakin dekat dan tak juga diselesaikan :p
Kemarin menjadi sebuah hari panjang dengan banyak hal yang dilakukan. Lagi-lagi mencoba merangkai kenangan di masa-masa akhir menjadi mahasiswa. Berangkat ke Indralaya dengan keyakinan kuat bahwa Pembimbing Skripsi (PS) 2 berada di sana. Sebenarnya sudah memiliki janji dengan beliau di hari Jumat yang lalu, sehingga tanpa bertanya babibu pada sang PS tentang keberadaannya, aku langsung menuju Indralaya. Apalagi dengan bekal janji bertemu para sahabat, aku semakin mantap menuju negeri perjuangan itu. Perjuangan kemarin untuk menuju Indralaya terbilang cukup berat *lebay*. Untuk keluar dari rumah pun aku tak bisa melewati jalan di depan rumah seperti biasa. Ada galian kabel FO (Fiber Optic) di depan rumah yang belakangan ku ketahui adalah sebuah kabel yang terbuat dari serat kaca dengan teknologi canggih dan mempunyai kecepatan transfer data yang lebih cepat dari kabel biasa. Biasanya FO digunakan pada jaringan backbone karena dibutuhkan kecepatan yang lebih pada jaringan ini. Abangku pun harus sedikit 'berjuang' mengeluarkan motornya melalui pintu keluar di samping rumah karena tidak dapat melewati jalan biasa. Iseng, sebelum berangkat ke layo aku mengambil kenang-kenangan gambar 'lubang' besar di depan rumahku itu
Diambil sesaat sebelum berangkat 07.23 WIB

Perjalanan keluar dari perumnas pun tak mulus. Dibutuhkan sekitar 20 menit dari terminal hanya untuk sekedar sampai di celentang. Macet sudah dimulai dari depan rumah hingga tiba di simpang Musi Raya Barat. Berada di dalam Transmusi membuatku sedikit kedinginan dan hasilnya pilekku menjadi-jadi. Kepala menjadi pusing tiba-tiba, karena Transmusi ini cukup padat di jam seperti ini. Namun, keinginan ke Layo mengalahkan semua yang dirasa. Ketika tiba di transit Polda, jam putih di tanganku menunjukkan pukul 08.05 WIB. Ini perjalanan yang cukup lama, pikirku. Menanti Transmusi jurusan Ampera pun dibutuhkan waktu sekitar 10 menit. Membayangkan, jangan-jangan akan ada episode menanti bus Layo yang cukup panjang di Cinde nanti, seperti sebuah feeling. Sekitar 20 menit kemudian aku telah tiba di Cinde dan menanti bus selanjutnya tiba. Bus yang sedang 'ngetem' ini menyisakan tiga bangku di barisan belakang. Aku sangat mengantuk, sehingga ku putuskan untuk menunggu bus selanjutnya untuk mendapatkan 'PW' (Posisi Wenak, seperti kata-kata di sebuah iklan pembersih lantai). Ketika bus selanjutnya datang, aku berjibaku berebut naik duluan dengan belasan orang yang juga ingin mendapatkan PW itu. Ternyata kepiawaian berebut khas warga Indonesiaku dan mahasiswa Layo masih terjamin. Aku mendapatkan bangku di depan sekali, di sebelah kiri sang sopir. Itu bangku favoritku sebenarnya. Dengan pribadi yang sebenarnya malas berbasa-basi dengan orang lain, ini tempat paling aman untuk duduk selama satu jam. Belum lagi jika mengantuk, disini bisa tidur pulas hingga tiba di terminal kampus. Beruntung, yang duduk disampingku juga seorang perempuan. Jika seorang laki-laki, aku sudah membayangkan akan duduk dengan sangat tidak nyaman hingga tiba di Layo. Apalagi kalo laki-lakinya rese', pecicilan, dan gak bisa diem. Padahal laki-laki yaahh *mulai ghibah... Tapi sayang, aku tak bisa tertidur sedikitpun. Asap rokok sang sopir terus mengganggu pernafasanku.. Huuffft >,<

Setibanya di Layo, tiba-tiba rindu menyeruak. Sudah hampir 10 hari tak menginjakkan kaki di sana. Melihat dan mencoba suasana kampus FKIP ku. Semakin asri dan banyak sekali perubahan sejak pertama kali ke sana pada Agustus 2008. Sekarang sudah ada lapangan futsal baru, sudah ada plang nama FKIP yang dilengkapi dengan taman cantik. Gedung Serba Guna FKIP pun telah selesai. Mengingat bagaimana perjuangan teman-teman BEM FKIP yang terus mendesak segera diselesaikan gedung itu dan Alhamdulillah, kini gedung yang akan digunakan untuk pelaksaan Yudisium itu sudah terlihat lebih 'layak' pakai dibanding sebelumnya.
Di perjalanan menuju Gedung MIPA, aku langsung bertemu dengan dua sahabatku, Leni dan Dian. Aku dan Leni menuju Gedung MIPA bersama-sama dan Dian yang baru keluar dari kelas Statistika Matematika akan menemui sahabat lainnya, Ana, yang sudah berada di Ruang Baca FKIP. Mencoba lagi membaca suasana kampus, sibuk. Ramai dengan mahasiswa-mahasiswa yang pasti baru tingkat awal. Bisa ditebak dari wajahnya yang tak familiar. Tapi juga tak sedikit wajah-wajah yang kukenal, wajah-wajah mahasiswa tingkat akhir yang mungkin sama, sedang merasa cemas karena deadline skripsi mulai mengejar, sepertiku. Seketika hatiku membaik, aku masih punya banyak teman disini ^_^
Menuju sekretariat HIMMA, terlihat beberapa anak-anak HIMMA 2011 dan beberapa anak laki-laki HIMMA 2009 yang mencoba membuka pintu sekretariat kami. Aku hanya sekedar menyapa dan segera menuju ke ruang Kaprodi, mencoba menemukan sang PS. Di depan ruang administrasi (TU) terlihat banyak anak-anak HIMMA 2010. Seketika lagi merasa lagi, HIMMA tetap eksis. Karena sepanjang jalan dari tangga di sebelah sekretariat hingga ke administrasi, hanya anak-anak HIMMA yang ku temui. Adik-adik tingkat ini menyapaku hangat, aahhh ini yang kusuka. Ini yang kurindukan, senyum dan usilan mereka :D. Aku ingat aku juga punya janji dengan seorang adik tingkat 2010 yang akan meminjam buku kuliahku semester-semester lalu. Aku tak menemukannya di kerumunan itu. Akhirnya memutuskan untuk meminta tolong temannya menyampaikan bahwa aku mencari dan menantinya di lantai bawah. Setelah keluar dari kerumunan mereka, aku menuju ruang Kaprodi, kosong. Blast, merasa sepertinya aku takkan bertemu sang PS disini karena sebelum berangkat  tadi Ana mengatakan bahwa ibunya berada di FKIP Ogan. Ah sudahlah, aku mencoba tak kecewa dengan keputusan 'salah pilihku'. Aku segera berbalik arah untuk kembali menemui Leni. Ternyata Leni memiliki janji dengan beberapa panitia Kongres IMAKIPSI beberapa waktu lalu untuk mengurusi LPJ kegiatan mereka. Akhirnya, aku menuju mushola untuk menanti Ana dan Dian selesai dari ruang baca. Di FKIP, musholla menjadi salah satu pusat kegiatan. Bukan hanya digunakan untuk melaksanakan ibadah, tetapi kegiatan sejenis syuro dan seminar-seminar keagamaan level menengah ke bawah sering diadakan disini. Bahkan tak jarang juga digunakan untuk tempat berjanji beberapa orang. Maka tak aneh sih jika mushola FKIP jauh dari kata sepi.
Tak lama menanti Ana dan Dian, mereka telah selesai dari ruang baca. Duduk sebentar saja di musholla FKIP aku telah bertemu banyak teman seperjuangan dari berbagai prodi. Ini yang kusuka dari teman-teman di FKIP, mereka ramah-ramah. Menyapa, bersalaman, dan cipika-cipiki khas muslimah. Menggugurkan dosa antar keduanya ^_^
Tak lama datang seorang lagi sahabat yang dinanti, Nova yang biasa kami panggil 'busuk' (panggilan kesayangan ^_^), yang telah meyelesaikan studinya. Nova telah selesai mengikuti sidang skripsinya pada tanggal 06 Februari 2012 lalu. Bahagia dan bangga juga ikut menggelayuti kami sebagai sahabatnya, mengingat bagaimana ia memperjuangkan untuk wisuda di bulan Maret ini. Jauh dari perjuanganku. Tetapi aku takut akan sangat merindukannya bila ia telah wisuda dan kembali ke tanah kelahirannya, Lahat. Takkan bisa berjumpa sesuka hati seperti saat ini.
Benar saja, silaturahmi itu memperpanjang usia, dan tentunya melapangkan rezeki. Dian membawa lagi dua makanan oleh-oleh dari mudiknya ke Karawang beberapa lalu, setelah pada hari Jumat lalu ia membawakan kami brownies kering. Dua jenis makanan yang namanya saja yang sering kami dengar, tetapi belum pernah dilihat dengan mata sendiri, apalagi dimakan. Makanan pertama ia membawa sweet tamarine, buah asem yang ternyata rasanya manis *ucapan Dian*. Aku bingung, ini yang bohong buahnya atau Dian. Jelas-jelas namanya buah 'asem', bagaimana bisa rasanya manis :D
Buah Sweet Tamarine
Makanan lainnya adalah Opak Kawung. Jika opak yang terbuat dari tepung ubi itu aku pernah memakannya. Tetapi, makanan ini seperti dibuat dari tepung beras. Rasanya manis, enak. Tetapi, jika makannya tanpa ditemani air minum maka akan seperti kami kemarin, kehausan. Apalagi memakannya di gazebo kampus yang jika duduk disana akan terasa seperti dibelai angin tetapi panasnya matahari juga ikut menusuk.
Opak Kawung, khas Karawang
Jika dihitung-hitung sebenarnya tak ada hasil apa-apa dari perjalananku ke Layo kemarin. Aku tak bertemu dengan PS 2, aku juga tak jadi membuat SK Pembimbing. Tetapi, kenangan-kenangan seperti yang ku lakukan kemarin, mungkin kemarin salah satu perjalanan indah. Mungkin, takkan lagi ada masa aku harus berebutan mendapatkan PW di bus layo. Mungkin aku takkan lagi bisa berada di kerumunan adik-adik tingkatku. Mungkin aku juga akan sangat merindukan sekretariat HIMMA, tempat berkumpul sembari menguatkan ukhuwah itu yang kini telah dilengkapi AC *menjadi ruang sekretariat saingan sekretariat BEM FKIP, karena hanya dua sekretariat ini yang memiliki AC dan peralatan elektronik cukup lengkap* (^_^). Mungkin akan merindukan duduk di gazebo di siang hari atau duduk di bangku di Zona B sambil menikmati sepoinya angin dan indahnya awan Indralaya. Musholla FKIP tentunya akan menjadi tempat yang dirindukan. Terlebih Kantin Bakso Barokah, tempat makan favorit sejak semester awal. Dan pastinya aku akan merindukan manusia-manusia itu.
Perjuangan di akhir masa kuliah ini mungkin bisa dibilang mirip dengan sweet tamarine, asem yang ternyata rasanya manis. Kini aku *mungkin juga mereka* sedang mengalami rasa asem *terkadang pahit*, menyelesaikan skripsi. Terlalu berat perjuangannya untukku, seorang pemalas ini, yang terkadang hanya berpikir "untuk apa sih skripsi? gunanya apa di kehidupan masyarakat? melatih agar menjadi terbiasa dan mencintai menulis? aah, bukankah banyak penulis-penulis hebat yang tak harus menyelesaikan skripsi untuk menjadi profesional". Tetapi, segala sesuatu pasti ada manfaatnya. Meskipun aku belum begitu paham untuk apa skripsi ini nanti untukku, toh skripsi harus tetap selesai. Takkan bisa dapat gelar jika tak selesai. Suatu kesia-siaan untuk perjuangan 3,5 tahun ini berarti. Pada akhirnya, asem *terkadang pahit* ini akan terasa manis di ujungnya. Manis karena akan berbuah gelar. Manis karena akan segera terlepas dari status sebagai mahasiswa. Manis, karena setelah lulus aku baru akan bisa meretas mimpiku sebenarnya. Manis, karena akan ada izin menikah dari sang wali nikah *eeh ^_^
Dan sesaat lagi aku pun akan menuju Indralaya, bertemu sahabat-sahabat lain, mengurus perpanjangan beasiswa, dan pastinya mencoba peruntunganku bertemu dengan PS 2 hari ini. Wish me luck ya guys ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar