Bismillahirrahmanirrahim.......
Sebenarnya aku telah pernah membaca perihal surat ini ketika masa SMA. Saat itu abang yang menunjukkannya padaku sesaat setelah ia membaca buku yang sedang kunikmati saat ini. Rangkaian kata-kata indah dari Salim A. Fillah, yang gara-gara buku "Jalan Cinta Para Pejuang"nya membuatku terkagum dan haus membaca kata-katanya lagi dan lagi. Saat ini aku sedang membaca NPSP, "Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan". Entah, mungkin aku sudah memasuki usia untuk memikirkan masalah ini. Entah, pasti banyak diantara kalian yang berpikir bahwa aku orang yang hanya memikirkan 'pernikahan'.
Tapi jujur, perasaan menjadi campur aduk ketika aku baru menyelesaikan bagian pertama dari buku ini. Ucapan "Ampuni aku ya Rabb" menjadi kalimat yang paling sering ku ucapkan. Bukan bermaksud menunjukkan apapun, hanya berharap semoga dengan membaca postingan ini, maka takkan ada yang tersakiti. Hanya mencoba mengingatkan sahabat dan saudara-saudara seiman, agar tak menjadi seperti di masa laluku. Semoga Allah, sang Maha Pembolak-balik hati, cenderung mencondongkan hatiku hanya padaNya.
Tapi jujur, perasaan menjadi campur aduk ketika aku baru menyelesaikan bagian pertama dari buku ini. Ucapan "Ampuni aku ya Rabb" menjadi kalimat yang paling sering ku ucapkan. Bukan bermaksud menunjukkan apapun, hanya berharap semoga dengan membaca postingan ini, maka takkan ada yang tersakiti. Hanya mencoba mengingatkan sahabat dan saudara-saudara seiman, agar tak menjadi seperti di masa laluku. Semoga Allah, sang Maha Pembolak-balik hati, cenderung mencondongkan hatiku hanya padaNya.
Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ba'da tahmid dan shalawat....
Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.
Akhi, rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak pernah Mengantuk dan Tak pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusnya. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam. Yang siap Memberi apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.
Maaf akhi, tapi menurutkuu kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil, dan kerdil di hadapanNya. Ia berbuat apa saja sekehendakNya kepadamu. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya cemburu. Aku takut, hubungan kita selama ini membuatNya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.
Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang pernah kita lakukan, marah karena nila setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau tentang lamunanku yang selalu membayangkan wajahmu. Ia bisa Marah. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.
Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tak cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. InsyaAllah, Dia punya rencana yang indah untuk masa depan kita masing-masing. Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita shalihah. Ya, wanita shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantumu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.
Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya, saudara di jalan Allah, akhi. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua, tapi seluruh orang mukmin di dunia. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.
Maaf akhi. Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, insyaAllah.
Wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh *
Masya Allah, aku tak mampu menghitung sudah berapa banyak air mata yang tumpah hingga aku menghabiskan bagian pertama dari buku ini. Untuk hal ini saja, aku bahkan tak tahu berapa berat dosaku. Begitu menyesakkan seketika setelahnya aku membayangkan tentang kematian dan kehidupanku di alam kekal itu, akhirat. Menyesali mengapa tak mendengar begitu banyak ajakan kebaikan yang ku tolak. Menyesali sudah berapa sering aku mengulangi dosa ini.
Ya Rabb, semoga penyesalan ini tak terlambat. Semoga Engkau masih sudi menerima permohonan ampun ku. Semoga Engkau juga selalu bersedia menegurku ketika khilaf ini kembali menyapaku. Ampuni hamba ya Rabb, Ampuni kami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar