Mungkin begini sensasi tinggal dengan seorang anak perempuan usia 4 tahun. Seorang siswi PAUD Aisyiyah 6 Perumnas Sako. Syafirah Althafunnisa, yang biasa disapa Nisa atau menyebut dirinya Icha. Sang ibu terinspirasi tokoh perempuan 'Anna Althafunnisa' dalam bukunya Kang Abik, Ketika Cinta Bertasbih.
Jadi, ketika mengandung si bayi, si ibu yang notabene adalah tante (aku memanggilnya etek) membaca buku pertama dari dua seri buku itu. Beliau begitu mengagumi pribadi dari seorang Anna Althafunnisa yang menjadi ciri khas seorang muslimah sejati. Oleh sebab itu, ia ingin putrinya kelak menjadi atau sekedar mirip dengan Anna Althafunnisa pada novel tersebut. Aamiin, Allahumma Aamiin..Kini, sang sepupu sudah genap berusia 4 tahun pada Januari tadi dan telah melewati satu semester sebagai seorang siswi. Ya, siswa di sebuah PAUD islami di daerah Sako. Alhamdulillah, begitu banyak hal yang kini telah diketahuinya. Ia begitu suka belajar. Ia menjadi seorang anak dengan tingkat keingintahuan yang sangat tinggi. Ia selalu melontarkan kata-kata lucu yang menggelitik kami ketika sedang berkumpul. Ia selalu mempunyai hal-hal baru yang tak pernah kami duga telah ia ketahui. Mungkin bagi teman-teman yang telah mengenal dan beberapa kali bertemu dengan si Icha ini, akan mengerti bagaimana sebenarnya sang adik sepupu ini.
Sebenarnya, meski di judul postingan ini terdapat kata 'PAUD', aku tidak akan menceritakan tentang Icha secara khusus. Hanya ingin menyampaikan, aku menjadi sedikit paham 'mengurus' anak kecil. Di awal masa sekolahnya dan bertepatan aku sedang libur dan berada di rumah, maka aku akan dengan senang hati mengantarnya ke sekolah. Ia pun senang jika aku mengurusnya, meski hanya sekedar memandikannya, menyuapnya makan, atau membuatkannya susu. Aku menjadi sangat dekat dengannya. Dan sejak ia sekolah pula lah aku mulai mengamati bagaimana sebenarnya balita itu tumbuh. Bersyukur, Icha lahir di keluarga menengah. Di usianya yang baru empat tahun ia sudah bisa mengenyam bangku sekolah. Hingga usianya 4 tahun pun ia masih minum susu dengan harga dan kualitas yang lebih dari sekedar baik. Mungkin juga karena ia lahir di tengah keluarga yang sebagian besar adalah orang-orang dengan 'pendidikan', ia benar-benar menjadi anak yang suka belajar. Ketika beberapa hari yang lalu, adikku belajar mengenai pangkat kuadrat, si Icha pun teriak-teriak untuk diajarkan mengenai pangkat kuadrat. Ketika adikku membaca sebuah teks bahasa Inggris, si Icha akan dengan bangganya mengucapkan nama-nama hari dalam bahasa Inggris, meski pengucapannya masih sangat jauh dari kata benar. Aku pun terkadang bingung menjawab pertanyaannya yang selalu "Mengapa, Mengapa, Mengapa". Semoga ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keingintahuan tinggi akan pengetahuan, seperti saat ini.
Selanjutnya, beberapa hari yang lalu ketika berada di Transmusi jurusan Ampera dalam perjalananku menuju Indralaya, aku berbarengan dengan beberapa anak-anak PAUD yang mungkin bersekolah di daerah KM 12 *atau arah situ-situ deh*. Jadi mereka bersama orang tua mereka masing-masing. Aku tak tahu tujuan mereka akan kemana karena aku turun lebih dulu. Tetapi, aku yakin mereka menuju tempat yang sama. Mungkin mereka menuju sebuah tempat perlombaan atau akan berkumpul dengan teman-teman PAUD dari sekolah lain. Di depanku duduk dua orang anak PAUD yang duduk di satu bangku. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Aku yakin usianya takkan jauh berbeda dari Icha, sang sepupu di rumah. Mereka asyik bercerita berdua meski aku tak begitu jelas apa yang mereka ceritakan. Mereka berdua tak henti tertawa. Duuh, enaknya menjadi balita, pikirku. Mereka melakukan perjalanan dengan suka cita tanpa harus dibebani semua pikiran yang ku bawa di otakku saat ini. Mereka terus bercerita tanpa henti. Mereka menunjuk semua yang mereka lihat di sepanjang jalan Jend. Sudirman. Anak laki-laki menunjuk KFC yang letaknya di LIA. Sang anak perempuan menyahut dengan berkata, "Aku sudah pernah kesana, iya kan bu", jawabnya meminta penegasan akan kebenaran kata-katanya dari sang ibu. Selanjutnya, sang anak laki-laki kembai menunjuk ke Mcd yang terletak di seberang BNI 46. Katanya, "Itu seperti huruf M ya". Anak perempuan, "Iya, kayak huruf M. Itu huruf M. Iya. huruf M.".
Bukan hanya itu, mereka juga menunjuk teman-teman mereka yang duduk sambil dipangku oleh ibu atau ayah mereka. Mereka tergelak-gelak mengomentari teman-temannya tersebut. Mereka semakin tertawa ketika mendapat perlawanan dari teman-temannya yang memang duduk di pangkuan orang tua masing-masing. Bukan hanya itu, mereka juga mengomentari apa saja yang mereka lihat. Ketika mereka tertawa, aku pun tersenyum. Lucu melihat tingkah keduanya. Bahagia sekali kalian sepertinya. Pada akhirnya mereka menyadari jika aku terus-terus memandangi tingkah mereka dengan sesekali tersenyum. Sang anak laki-laki yang pertama menyadari dan berhenti berkata-kata. Ia diam, yang diiringi dengan senyum malu-malu. Menyadari keduanya sudah merasa malu diperhatikan, aku pun mencoba mengalihkan pandanganku dari mereka. Kasihan melihat keduanya harus berhenti berimajinasi gara-gara pandangan tertarikku pada mereka. Aku mencoba-coba memperhitungkan, pembelajaran macam apa ini. Seperti sebuah jarum pentul yang menusuk jariku ketika menggunakannya di jilbabku. Tak terlalu sakit, tapi cukup mengejutkan. Heii, aku tak ada bedanya dari mereka, para siswa PAUD.
Kemarin, untuk kedua kalinya aku menemani sahabatku, Ana, melakukan penelitian di SMP Negeri 4 Palembang. Hanya aku yang bisa menemaninya hari ini. Dua sahabat lainnya memiliki keperluan di Indralaya. Setelah penelitian hari itu selesai, kami berdua memutuskan untuk 'main'. Sudah lama kami tidak bermain, pikir kami. Terkadang 'main' dibutuhkan untuk sekedar melepas penat karena tekanan skripsi dan juga untuk sekedar mendekatkan kembali hati yang terkadang menjauh gara-gara kepadatan aktivitas masing-masing. Pertama, kami menuju sebuah restoran di simpang patal, Ayam Lepas. Sejak grand launchingnya beberapa saat yang lalu, aku belum pernah mencicipi rasanya. Hanya membaca dari brosur yang dibagikan, cerita teman-teman yang telah mencicipinya, atau bahkan hanya sekedar dari status FB atau tweet yang dishare. Akhirnya, ketika pukul menunjukkan pukul 10.45 WIB kami telah dihidangkan sepaket Ayam Lepas dan es teh manis. Keadaan restoran ini belum terlalu ramai seperti biasa aku melihatnya. Ini memang masih terlalu pagi untuk makan siang. Hanya ada beberapa remaja seusia kami *mungkin* dan sederetan panjang ibu-ibu dengan pakaian mereka yang serba pink. Dibutuhkan sekitar 45 menit untuk menghabiskan makanan ini. Bukan karena terlalu besar porsinya, hanya terlalu banyak yang kami ceritakan berdua. Padahal kami hanya tidak berjumpa di hari Selasa, tetapi sudah begitu banyak isi hati yang tercurah. Membayangkan, bagaimana nanti seandainya memang sudah benar-benar berpisah dan memiliki kesibukan masing-masing. Akan dibutuhkan berapa lama menghabiskan sepaket Ayam Lepas ini untuk melepas rindu?
Perjalanan kami lanjutkan. Karena letaknya yang berdekatan dengan PTC, akhirnya kami mampir. PTC belum terlalu ramai di jam-jam seperti ini. Hanya ada diramaikan oleh penjaga toko yang dengan ramahnya mengajak kami hanya sekedar mampir di tokonya. DIVA menjadi tujuan pertama kami. Karaoke.. Hahahaa, kebiasaan ini menjadi rutinitas kami sebelumnya. Tetapi, karena sudah cukup lama kami tidak 'nyanyi' dan didukung oleh suasana asing ruang karaoke ini, kami berdua seperti kehilangan mood bernyanyi. Hanya di lagu-lagu terakhir kami cukup menikmati lagunya.
Tujuan kami selanjutnya musholla. Kami belum melaksanakan Zuhur padahal jam sudah menunjukkan pukul 12.45 WIB. Kami menuju musholla PTC yang letaknya di daerah parkiran di lantai 1. Sekitar 15 menit kami berada di sini dan segera kembali menuju ruang utama PTC. Tiba-tiba aku berseru jika aku rindu es krim. Mungkin sudah hampir satu bulan aku tak menyentuhnya. Aah, aku rindu, kataku. Ana mengingatkan bahwa aku sebenarnya masih flu, batuk dan pilek masih mengejarku kemana-mana. Tetapi, karena rindu yang terlalu parah pada makanan itu, akhirnya kami memutuskan untuk membeli Colonel Sundae di KFC. Melihat antriannya yang tidak terlalu panjang, semakin menambah keinginanku segera mendapatkannya. Tak perlu mengantri, kami memesan dua Colonel Sundae dan satu French Fries. Setelah membayar sejumlah uang dengan yang tertera di meja kasir, kami segera menemukan tempat untuk duduk. Memandangi seisi ruangan ini, rindu pada teman-teman SMA terbersit sesaat. PTC menjadi salah satu tempat 'nongkrong' di masa putih abu-abu itu. Melihat sekeliling, isi ruangan ini dari tipe-tipe orang yang berbeda-beda. Ada beberapa yang datang dengan keluarganya, mahasiswa, dan beberapa lagi masih menggunakan seragam sekolah. Pandanganku terhenti pada sepasang anak sekolah. Anak laki-lakinya memakai seragam putih abu-abu khas sebuah sekolah swasta TOP di Palembang dan anak perempuannya menggunakan batik dengan rok berwarna biru, tapi aku tak mengenali pakaian sekolah mana itu. Aku tak tertarik pada apa hubungan mereka, mungkin kakak adik, mungkin berpacaran. Yang menjadi perhatianku, si anak perempuan menggunakan sendok ketika makan. Haa, aku bingung. Mencoba menemukan mungkin ia memesan sup atau mungkin Colonel Yakiniku. Tetapi ternyata tidak. Ia makan nasi dengan ayam KFC biasa, seperti orang kebanyakan. Disini jiwa 'siswa PAUD' ku muncul. Tiba-tiba pertanyaan, "Aku dan Siswaa PAUD, apa bedanya?".
Layaknya seperti dua anak PAUD yang kutemui di TM beberapa hari yang lalu, aku juga seperti mereka. Doyan komentar. Seperti komentator sepakbola, di dalam hari riuh rendah suara mengomentari orang-orang yang dilihat. Berada di keramaian seperti ini memang sangat riskan untuk bertemu dan pada akhirnya mengomentari apa saja yang tertangkap mata. Mungkin yang hanya menjadi pembeda, objek yang kami nilai dan komentari yang berbeda. Seolah ingin menjadi anak-anak dengan keingintahuan yang tinggi, tak jarang aku pun tertarik untuk memandangi objek-objek menarik itu. Sayang, terkadang komentar ini tak hanya tersimpan di hati, tetapi juga disampaikan pada orang yang kebetulan berada di sampingku.
Melihat tayangan televisi pun, terkadang mulut dan hati tak berhenti untuk mengomentari. Mengomentari pakaian para 'wanita' di televisi yang memang lebih banyak menjual kecantikan tubuhnya dibanding bakat mereka. Mungkin memang lebih baik membatasi tontonan televisi yang seperti itu. Seandainya tak sengaja terlihat, lebih baik banyak-banyak mengucap Istighfar dan segera mengalihkan pandangan dari televisi.
Tergelitik ketika mencoba merangkai kata untuk memposting ini. Semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Bahwa kita harus memiliki sedikit saja perbedaan dari anak PAUD ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar