Selasa, 06 Maret 2012

Komunikasi, Hal Penting yang Unik

Beberapa hari yang lalu, setelah memperpanjang masa aktif kartu keanggotaan di ruang baca FKIP Unsri, aku mencoba mengutak-atik koleksi buku di ruangan ini. Mungkin sudah hampir 4 bulan aku tak lagi meminjam buku bacaan disini. Jika ke ruangan ini, aku hanya menuju rak-rak berisi skripsi para kakak tingkat yang telah lulus lebih dulu. Kemarin, aku tergerak untuk menuju rak bagian buku-buku pendidikan. Walaupun sebenarnya aku lebih ingin menuju rak berisi buku ‘bahasa Inggris’, tetapi coba ku tahan. Aku butuh beberapa buku sebagai referensi ehmm, mungkin bukan referensi. Tepatnya beberapa buku yang judulnya akan aku catut dan aku lampirkan sebagai daftar pustaka skripsiku. Aku berkeliling cukup lama karena setiap tertarik dengan judul dengan sebuah buku, dibutuhkan sekurangnya lima menit untuk mencerna sedikit dari maksud buku itu. Seketika mataku tertumbuk pada sebuah buku dengan judul “Ilmu Komunikasi, Sebuah Pengantar” dengan pengarangnya Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.
Mengingat judul skripsiku juga mengandung kata komunikasi, kuraih buku itu. Ternyata buku ini membahas komunikasi secara umum. Meskipun pada dasarnya buku ini tidak terlalu penting untuk skripsiku, akhirnya kuambil buku itu ke meja ibu pengurus ruang baca dengan niat meminjamnya. Bertekad membacanya, minimal setengah saja. Sebanyak 382 halaman kucoba untuk menaklukkannya selama lebih kurang empat hari. Jujur saja, aku tak bisa terlalu konsen membacanya, tetapi karena disertai beberapa contoh komunikasi yang sedikit “unik”, aku sampai juga pada bagian akhir. Meskipun, aku memilah-milih bagian mana yang kubaca, minimal aku tahu begitu uniknya komunikasi ini.

Secara singkat, buku ini memaparkan tentang sebuah bentuk kesadaran untuk berkomunikasi dengan benar. Ehm, mungkin bukan sekedar benar, tetapi juga baik. Komunikasi juga harus dilakukan pada kondisi yang tepat, karena jika tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Kemudian kenapa bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa nasional, artinya bahasa ini harus dan sedikit WAJIB digunakan dalam kehidupan berkomunikasi sehari-hari. Mengingat begitu banyak suku di Indonesia, bukan tidak mungkin di hari-hari kita, akan berjumpa dan mengharuskan berkomunikasi dengan orang-orang dari suku lain. Bayangkan jika masing-masing menggunakan bahasa daerah dan sukunya, kekacauan macam apa yang akan terjadi. Mengutip sebuah contoh dari buku ini,

Seorang cowok batak dan seorang cewek Sunda berada di sebuah angkutan kota. Si cowok berlagak sok akrab dan ia langsung membayar ongkos si cewek. “Biarin saya yang bayar, Neng”. Si cewek tidak bisa berbuat apa-apa. “Terima kasih, Mas”. Si cowok pun menjawab, “Bujur kembali”. Tentu saja si cewek pun marah. Sambil melemparkan uang ke wajah s cowok, cewek itu berucap, “Enak saja, nih uangmu”.

Mungkin bagi kita yang tak mengerti akan berpikir, dimana lucunya? Apanya yang salah? Ternyata, kesalahan komunikasi di atas dalam penggunaan kata bujur yang digunakan oleh suku Batak dan suku Sunda. Kata bujur berarti “terima kasih” bagi orang Batak (Karo), sedangkan bagi orang Sunda bujur berarti “pantat”. Wajar saja si cewek Sunda marah pada si cowok Batak yang niatannya mengucapkan “terima kasih kembali”. Intinya? Seandainya saja si cowok Batak menggunakan bahasa Indonesia untuk mengucapkan terima kasih kembalinya, pasti tidak akan terjadi miskomunikasi seperti itu. Kita kan sudah punya bahasa Indonesia, loh kok masih juga mau pake bahasa daerah yang mungkin di daerah lain itu bermakna lain.

Komunikasi menjadi sangat penting untuk orang-orang yang berminat atau sudah berprofesi bagi kehidupan sosial, misalnya guru. Guru adalah satu dari sekian banyak profesi yang melayani masyarakat, yang bergelut di kehidupan sosial. Guru dituntut harus mampu berkomunikasi dengan baik. Terkadang komunikasi tidak hanya dilakukan dengan mengeluarkan kata-kata. Perbuatan dan tindakan terkadang menjadi sebuah bentuk komunikasi seseorang pada orang lain. Komunikasi juga merupakan salah satu bentuk eksistensi seseorang. Semakin baik seseorang berkomunikasi, maka semakin eksis lah dia dalam kehidupan. Tidak yakin? Orang-orang yang bisa tergolong aktivis jejaring sosial, merupakan orang-orang yang memiliki tingkat komunikasi baik. Mereka mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang dari dunia maya. Mereka tergolong orang-orang yang cepat nyambung dengan orang-orang baru dari jejaring sosial, meskipun mereka hanya berkenalan lewat jalur itu.

Komunikasi, yah komunikasi. Aku begitu tertarik dengan satu hal ini. Meskipun, mungkin tanpa pengajaran khusus, semua orang akan mampu berkomunikasi, tetapi kita bisa menilai tingkat komunikasi seseorang. Rendah, sedang, atau tinggi. Segala sesuatu itu butuh latihan. Jika benar-benar ingin mencapai tingkat terbaik dalam komunikasi, tidak salah untuk mempelajarinya secara khusus. Percayalah, kesulitan dalam berkomunikasi akan mempengaruhi kualitas hubungan dengan manusia lain yang secara tidak langsung akan merugikan beberapa hal penting dalam hidup. Jika sulit berkomunikasi, maka akan memiliki sedikit kenalan. Di era seperti ini, memiliki sedikit kenalan dan koneksi akan mempersempit lingkup pergaulan dan tentunya kesempatan berkarir. Tidak percaya? Just try it ^_^

*Sumber : Mulyana, Deddy.2001.Ilmu Komunikasi, Sebuah Pengantar.Bandung : Remaja Rosdakarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar