Papa, begitu aku memanggilnya, pendamping hidup malaikat duniaku. Tak salah dan tak berlebihan kan jika pada akhirnya aku juga ingin memanggilnya malaikat? Bukankah, hanya seorang malaikat yang pantas menjadi seorang pendamping bagi pendamping lainnya? Sedikit merasa bersalah padanya, aku jarang mengungkapkan besarnya cintaku padanya, seperti aku mengungkap cinta pada pasangannya, mama. Bahkan mungkin ini tulisan pertamaku tentangnya. Untuk mama, sudah berapa kali aku menulis dan merangkai kata indah tentang kecantikannya. Tetapi, aku kesulitan menemukan kata-kata indah nan gagah untuk seorang laki-laki tampan ini. Dan akhirnya, aku mencoba menemukan kata-kata yang pantas untuknya. Selanjutnya, aku harus memperbanyak perbendaharaan kata untuk mengungkapkan cintaku padamu, pa :D
Papa, begitu aku memanggilnya. Seorang laki-laki kelahiran Palembang, 48 tahun yang lalu. Di tubuhnya mengalir deras darah keturunan Jawa Tengah, daerah yang masih menjadi bayang-bayangku. Aku hanya mengenal daerah ini dari peta dan sering mendengar desa kelahiran kakek-nenekku dari televisi. Suatu hari aku ingin kesana, insyaAllah. Papaku, anak keenam dari sembilan bersaudara. Hanya berijazah lulusan STM untuk pendidikan terakhirnya. Namun, ia punya mimpi menjadikan kedua putrinya orang terpelajar, minimal berijazah S1. Menurut tuturan cucu nenekku dari papa, aku memang cucu pertama yang menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri dan itu sangat membanggakan bagi papa, tentunya juga bagiku. Mereka tak terlalu memikirkan pendidikan dan ijazah, tetapi berbeda dengan papa. Meski ia hanya lulusan STM, ia tak ingin kedua putrinya terbelenggu biaya untuk tak melanjutkan pendidikan hingga jenjang paling tinggi. Baginya, kedua putrinya inilah sebenar-benar kebanggaan. Hingga akhirnya, hal ini yang membuatku semakin kuat dan tak pernah ingin menyerah pada kondisi apapun untuk membuatnya bangga.
Kepribadian papa mirip dan cenderung sama dengan namanya. Sabar. Iya, benar. Nama papaku, Sabar Taswan (dengan Taswan adalah nama kakekku). Ia benar-benar pribadi luar biasa bagiku. Ia seseorang yang tak banyak bicara pada orang-orang yang baru dikenalnya. Ia memang pendiam, minimal begitu penilaian nenekku dari mama (mertuanya ^_^). Tetapi, ia menjadi sangat cerewet bagi orang-orang yang disayanginya. Ia begitu protektif bagi kami. Sewaktu aku kecil, aku takut (mungkin sebenarnya segan) padanya. Dengan kepribadiannya yang tak banyak bicara, aku selalu takut untuk memulai berbicara padanya. Ketika aku tidak tidur siang, dia hanya berkata sedikit dan aku segera berlari ke kamar dan kemudian berpura-pura menutup mataku, seolah aku tidur. Ketika aku sedang malas untuk mengaji, aku pun tak berani untuk bolos ketika ia hanya sekedar 'berdehem'. Aahh, aku begitu penakut dulu padanya. Kini baru aku mengerti, ia memang begitu. Ia 'irit' dengan kalimat. Ia ingin kami, kedua putrinya mengerti dengan sedikit kalimat. Dengan isyaratnya saja, kami harus bisa mengerti maksud dari seseorang. Alhamdulillah, aku tak terlalu lama mengerti maksudnya. Secara tidak langsung mungkin hal itu yang akhirnya membangun pribadiku yang tak terlalu suka dengan orang-orang 'banyak bicara' dan sekarang sedang mencoba untuk menjadi seorang seperti papa, orang yang tak banyak bicara. Yah, seperti papaku ^_^
Masa-masa sekolah adalah masa paling hangat bersamanya. Ia begitu senang mengantarku sekolah di tiap pagiku dan jika sempat ia akan menjemputku. Meski di masa itu aku sering merasa sedikit 'malu' karena papaku menjemput dengan vespa ungunya yang sudah cukup butut, tetapi aku selalu senang jika aku sudah melihat dijemput olehnya dari jendela kelasku di lantai 2. Kini aku baru mengerti, papaku tak ingin menukar motornya karena memang dananya belum ada. Ia lebih memilih menyerahkan semua gajinya untuk digunakan bagi kehidupan keluarga kecilnya. Dengan gajinya yang tak seberapa, ditambah keadaan perusahaan tempatnya bekerja beberapa tahun ini sedang mengalami krisis dampak korupsi yang dilakukan pimpinanannya (benar kan, korupsi memang menghancurkan pihak-pihak kecil, seperti keluarga kami), semakin membuatnya rajin bekerja untuk makan dan pendidikan kami. Aku juga kasihan pada mama, ia begitu pusing menjadi manager keuangan di rumah. Sulit membagi uang itu menjadi partisi-partisi untuk semua komponen hidup keluarga kecil ini agar semua bagiannya tercukupi. Terkadang aku malu terus-terusan meminta pada mereka, tetapi mereka tak jua mengizinkan aku untuk bekerja paruh waktu. Mereka berdua selalu mengingatkan dan meminta padaku untuk hanya sekedar kuliah dan mengejar pendidikanku sebaik mungkin. Mereka tak ingin aku lelah, terlebih papa. Ia ingin hingga selesainya aku kuliah, hanya ia satu-satunya yang menjadi tulang punggung keluarganya. Aku hanya bisa sedikit membantu beratnya beban kehidupan biaya di keluarga ini dengan beasiswa. Alhamdulillah, sudah dua tahun ini aku menjadi salah seorang mahasiswa yang mendapat bantuan dana kuliah dari Dikti. Meski tak seberapa, minimal untuk sekedar membeli sepatu merk "Austin" atau minimal "Inside" dan berganti tas ransel merk "Export", aku tak perlu meminta lagi pada mereka. Meskipun, untuk menyelesaikan skripsiku ini, aku malah meminta lebih banyak pada mereka. Seminggu kemarin aku menghabiskan sekurang-kurangnya Rp 800.000 untuk biaya printer baru dan lima rim kertas Q4 80 gram beserta tintanya. Papa mengusahakan mendapatkan uang itu tak lebih dari tiga hari, meski aku tak tahu dimana papa mendapat pinjaman itu. Aku ingin segera luluuuus, ingin segera membantu dan mengangkat sedikit kehidupan keluarga ini. Aku ingin luluuuuuuuussssssssssssssssss
Aku kini sedang merindukan sosoknya, papa. Sudah sejak kelas 3 SD, sebenarnya aku tak tinggal serumah dengan papa, meski aku masih bisa bertemu dengannya setiap hari. Aku tinggal bertiga dengan nenek dan kakekku dari mama, menemani kedua orang tua yang sudah renta ini. Mencoba menjadi cucu yang baik. Ini yang akhirnya menganggap nenek dari mama adalah ibu keduaku. Meski tak serumah, aku memiliki banyak kenangan indah bersamanya. Papaku loyal jika mentraktir makan. Jika ia menjemputku sepulang sekolah, minimal ia akan mengajakku makan bakso. Atau jika ia lapang di hari minggu, ia akan mengajakku berjalan sekedar mencari jajanan. Aku semakin sadar, doyan jajan dan kurang suka makan nasi itu memang turunan ^_^. Tapi, sayang. Mungkin sudah bertukar kepemilikan papa dengan adikku seorang lagi. Sekarang, adikku yang lebih sering diajak "dating" berduaan. Hahaha, ternyata aku cemburu :D
Belakangan, papa mulai sering menanyaiku mengenai "orang dekatku". Aku tak ingin terlalu banyak membahasnya, karena memang aku dekat dengan banyak orang. Berbicara dengannya mengenai topik ini terkadang menyenangkan, ia tak mengharap apapun dari calon 'anak laki-lakinya' kelak. Bisa dimaklumi, papa tak punya anak laki-laki. Mungkin itu yang akhirnya membentukku menjadi sedikit 'laki'. Aku suka menonton bola di tengah malam, menemaninya, sehingga aku sedikit mengerti istilah-istilah dalam permainan itu. Papa tak menuntut banyak pada pendamping putrinya ini kelak. Ia tak mengharuskan calonku itu harus sarjana, harus memiliki kendaraan bagus, harus begini, harus begitu, bla bla bla. Ia hanya ingin, 'anak laki-lakinya' itu nanti mampu membawa kebahagiaan bagi putrinya. Aaaah, dibuat begitu mudah oleh papa, malah aku yang berharap banyak padaNya mengenai jodohku nanti. Aku ingin yang seperti beliau, seperti papa. Yaa, yang seperti dia. Yang jika nanti aku memiliki putri, putriku juga akan membuat banyak puisi dan tulisan mengenai ayahnya. Yang baik, baik di mataku, di mata kedua orang tuaku, di mata keluarga besar mama dan papa, di mata anak-anakku, terutama baik di mataNya.
Namun, aku sadar, untuk mendapatkan seseorang yang sepertimu pa, aku harus sebaik mama. Itu mutlak. Yang baik untuk yang baik, yang keji untuk yang keji. Sekarang, selama masa penantian sang pemilik tulang rusuk, aku harus belajar banyak dari mama, belajar untuk menjadi minimal seperti mama, bahkan harus lebih baik dari mama. Sehingga, aku benar-benar bisa berdampingan dengan seseorang sepertimu, pa. Aaah, I Love more today, than yesterday. I Love you, more :*
*ditulis dengan mata sedikit gerimis, dada sesak mengingat masih begitu banyak aku akan menyusahkannya hingga aku lulus S1 ini, hanya berdoa :"semoga kelulusanku nanti benar-benar akan membawa kebahagiaan dan kebanggaan untuknya". nantikan masa itu pa :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar