sebenarnya bukan tentang ini yang ingin diposting hari ini
tapi, perjalanan pulang dari sekolah tadi memberi sedikit inspirasi untukku
bukan inspirasi sebenarnya, tapi pelajaran
sebuah peringatan tentang seringnya aku tak peduli pada hal itu
"rasa peka"
pertama kali merasa diperingatkan tentang hal ini ketika berada di dalam TM (red : Trans Musi) sepulang dari sekolah hari ini
melihat padatnya TM setiap hari di jam-jam seperti itu sudah membiasakanku untuk berdiri *dak dapet bangku ceritonyo*
hari ini ternyata pulang di jam padat yang sangat parah
dua TM lewat begitu saja, tanpa menghiraukan kami yang berdiri berdesakan di halte di seberang sekolah
akhirnya satu TM yang supirnya baik hati sekali mau menghentikan laju kendaraan yang dibawanya (berhenti karena ada penumpang yang ingin turun)
hanya satu dua penumpang yang turun, tetapi yang mau naik, banyaaak
berhubung sudah berdiri di bagian depan sekali, dengan setengah memaksa pramugara (panggilan halus untuk kenek) aku langkahkan kaki memasuki TM terpilih ini
sekitar 3-4 orang di belakang mengikuti saya menaiki TM ini juga yang akhirnya memancing berbagai respon dari "penghuni" terdahulu TM itu
tiba-tiba mikir, egois bener ya saya gak mikirin yang udah 'empel-empelan' di dalem ni TM
cuma karena udah hampir setengah jam nunggu *dan gak sabaran lagi*, dengan teganya ngejepit yang udah pada sempit-sempitan
apalagi setelah diperhatikan hampir sebagian penumpang adalah ibu-ibu paruh baya
waduh, berasa nambah bersalah saya
untung tidak terlalu lama berada di TM ini
karena tujuanku Sako, di halte Polda harus ganti TM yang jurusan Sako
agak lega (dalam arti sesungguhnya) karena tidak harus berdesak-desakan
tetapi, harus berjengkel ria lagi karena TM jurusan Sako tak kunjung tiba di menit ke-15 aku menunggu
ya Allah, pada kemana siih ni TM??
pada aksi nih sopir dan pramugaranya pasti (trauma masa SMA yang gak bisa pulang sekolah gara-gara angkotnya aksi mogok *ntah apa alasannya)
akhirnya, TM yang kutunggu, kutunggu (recycle lagu bis sekolah) muncul juga
dan oh Gosh..
lagi-lagi jengkel muncul di hati
harus empel-empelan lagi????
melihat si TM di halte seberang sana, udah ngenes duluan ni hati
yang berdiri berapa banyak tuuuh???
sempet mikir mau pilih TM selanjutnya, tapi kondisi badan sangat tidak mendukung untuk berlama-lama di luar ruangan di tengah panasnya hari
akhirnya ikut orang-orang yang juga bakal naik TM beruntung ini
dan, di TM inilah akhirnya bener-bener mikir tentang rasa peka itu
apa itu peka?? peka, bukan "pekak" (pelafalan bahasa Palembang) yang artinya tuli
ehmm.. peka, mungkin sejenis peduli, simpati, dkk yang intinya tentang hati *lagi
yahh, mungkin lebih merujuk pada kepedulian kita pada makhlukNya
pada manusia *tentu saja, pada makhluk lainnya *seharusnya
sayaang, tak banyak manusia yang memiliki kepekaan yang baik kini
termasuk aku, yang mencoba berbagi saat ini
ceritanya, di TM jurusan Sako yang lagi-lagi kebagian 'bangku' berdiri
ada beberapa hal yang menunjukkan aku bukan orang yang peka akan lingkungan
pertama, ahh malu sebenarnya mengatakannya
hanya karena seorang 'mbak-mbak' tidak sengaja menginjak sepatu hitamku, mukaku langsung cemberut dan hampir *baru hampir* menatap mbak itu dengan sinis
tanpa ba bi bu permintaan maaf lagi, wajar kan kalo si mbak disinisin..
tapi tiba-tiba sadar
loh, ni mbak pasti gak sengaja
ada urusan apa dia injak sepatuku dengan sengaja
ada masalah apa si mbak dengan sepatuku
gak ada alasan, akhirnya mencoba melapangkan dada
wajar aja saling injak sepatu, kan sempit-sempitan
sebelum naik TM di halte polda tadi sebenarnya udah mempertimbangkan
biasanya di PTC bakal dapet tempat duduk nih
sebagian besar pengguna jasa angkutan TM turun di halte PTC
gak semuanya langsung masuk ke PTC, tapi beberapa yang tinggal di daerah MP Mangkunegara, Kenten Laut, dll harus turun dan nyambung angkot 'Sejahtera'
sayangnya, perhitungan kali ini salah
yang turun memang banyak, tetapi TM dengan kapasitas berlebih tadi masih belum menyediakan bangku yang bisa ku duduki
hufft... harus menambah kesabaran lagi untuk menanti mereka yang bakalan turun di halte JM Kenten
ini satu lagi pusat pengguna TM jurusan Sako turun
kuhitung, ada sekitar delapan orang yang turun
alhamdulillah, anak sekolah yang duduk di dekat aku berdiri juga ikutan turun
akhirnya.. duduk juga
TM kembali melaju dan ternyata masih ada juga yang berdiri
memang kelebihan kapasitas penumpang TM satu ini *batinku
kemudian mataku tertumbuk pada seorang ibu-ibu yang berdiri di dekat pintu TM
hal kedua yang menunjukkan rasa pekaku tak terlalu baik
memutuskan untuk menyuruh sang ibu menggantikanku duduk pun aku harus berpikir lama
mungkin kalo di tayangan kartun di TV, sudah ada dua sosok di masing-masing telingaku
di sebelah kiri sosok berpakaian hitam membisikkanku untuk tidak mengizinkan ibu itu duduk di bangkuku
"loe kan udah lama berdiri wie, capek tau"
tapi di sebelah kanan ada sosok berpakaian warna jingga (warna fave saat ini) yang juga gak mau kalah berargumen
"bayangin kalo itu mama kamu, wie..."
naah, si jingga jauh lebih hebat
dia nyuruh aku bayangin itu mama
akhirnya, ku persilahkan si ibu untuk duduk dan aku kembali berdiri
berdiri sampai ke tujuan, TERMINAL SAKO
satu hal yang sejak siang tadi hingga kini yang berlalu lalang di otakku
bagaimana hari-hariku? peka-kah aku? pedulikah aku akan lingkunganku?
ahh.. aku orang yang acuh akan lingkungan
aku tak begitu peduli pada keadaan sekitarku
dan akhirnya aku merasa malu
pertama, aku malu pada 'jilbabku'
malu dengan identitas muslimah yang kusandang
begitukah seharusnya muslimah bertindak?
begitukah agamaku mengajarkanku?
untuk tidak peduli? untuk tidak peka?
*aku belum sempat menemukan referensi mengenai kepekaan sosial menurut agama*
tapi aku benar-benar merasa malu
kedua, aku juga malu pada 'almamaterku'
aku pegang almamater tadi, orang-orang tentu tahu aku berasal dari universitas mana
sebelumnya aku tak terlalu peduli dengan kata-kata orang jika aku tak membawa simbol instansi manapun
tapi, siang ini aku membawa jaket kuning kebanggaan kampusku
yang orang tahu, universitas yang mengizinkan mahasiswanya mengenakan jaket ini adalah para mahasiswa terpilih
terpilih secara otak, juga hati
kami harus lebih punya hati yang lebih baik *yang diharapkan dan dikenal masyarakat
apalagi, fakultasku mengharapkan lulusannya mampu berkembang secara baik di lingkungan masyarakat
yang akan dihadapi lulusan fakultasku adalah manusia, siswa *generasi masa depan
kini pun di masa PPL aku mulai belajar bagaimana mengenal lebih banyak karakter orang
bahwa seorang guru tak harus melulu hanya peduli pada penampilan pribadi
tidak melulu sibuk dengan RPP atau materi yang akan diajarkan
coba peka dengan keadaan siswa, bagaimana mereka seharusnya belajar mengenai materi yang akan kita sampaikan
jangan terlalu banyak gunakan teori yang luar biasa baik, jika itu tidak sesuai dengan kondisi siswa
itu salah satu pelajaran yang sudah kudapat
intinya apa??
aku ingin jadi orang yang peka akan lingkungan
yang tak hanya sekedar peduli pada hati dan kenyamanan pribadi
pastinya, rasa peka itu dari hati
tentu hati yang pertama kali harus diupgrade, harus lebih lapang
menjadi lebih baik itu memang tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin
mari teman, berusaha menjadi lebih baik yuuk ^___^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar